Kamis, 13 Oktober 2011

Keluarga Besar IPDN

Sekali lagi harus saya tekankan, IPDN merupakan sebuah perguruan tinggi kedinasan yang saya pikir mempunyai suatu budaya yang teramat khas yang hampir tidak akan kita temukan di perguruan tinggi kedinasan lainnya apalagi perguruan tinggi pada umumnya.

Sebaiknya dan saya pikir sudah seharusnya, sebelum anda membaca tulisan ini, saya sarankan anda terlebih dahulu membaca tulisan saya yang terdahulu mengenai perguruan tinggi kedinasan pencetak kader-kader aparatur pemerintahan dalam negeri ini, agar sedikit banyaknya anda semua bisa mempunyai sedikit bayangan mengenai perguruan tinggi kedinasan ini dan sedikit banyaknya juga, apa yang nanti hendak saya tuliskan bisa tidak terlalu sulit untuk anda pahami. Karena syarat utama agar pesan atau makna dari segala apa yang akan kita sampaikan bisa sampai kepada lawan bicara kita adalah kita harus dalam tahap persepsi dan pola pikir atau sudut pandang yang sama dan kalaupun berbeda, perbedaan itu tidak terletak pada sesuatu hal yang prinsip dan anda pun rela, ikhlas serta mau untuk selalu membuka hati serta pikiran anda terhadap segala yang berbeda itu. Dan apabila syarat itu telah mampu kita penuhi, maka pembicaraan kita pun akan berlangsung dengan sangat nyaman. ( baca : Ko-teks Vs. Konteks )

Jadi, ini adalah daftar tulisan saya yang telah lalu mengenai IPDN, sebagai pembuka dari tulisan yang akan sesegera mungkin saya tulis ini :

1. IPDN 2010/2011
2. KAMPUS DAERAH DAN SEMANGAT PERUBAHAN
3. Takkan Terhenti Disini
4. Penerimaan Capra IPDN T.A. 2011/2012
5. Pertanyaan di Acara Kunker Ibu Sekjen Kemendagri
6. PL I/PPL
7. Selayang Pandang IPDN

Suatu sikap lambat laun akan berubah menjadi sebuah kebiasaan, terbentuk karena suatu kultur, sistem dan prosedur yang ada dan sedang kita jalani. Seperti apa yang pernah Pak Syamsu ( Plt. Kabag Pengasuhan IPDN Kampus Pusat Jatinangor ) katakan :
"Berhati-hatilah dgn pikiran anda karena pikiran anda akan menjadi perkataan anda. Berhati-hatilah dgn perkataan anda karena perkataan anda akan menjadi perbuatan anda. Berhati-hatilah dgn perbuatan anda karena perbuatan anda akan menjadi akhlak anda. Dan berhati-hatilah dgn akhlak anda karena akhlak anda akan menentukan nasib akhir anda."

Dan inilah yang terjadi di IPDN, di lembaga pendidikan ini, terbentuk suatu budaya, bahwa senioritas menjadi sesuatu hal yang penting di atas asas kekeluargaan yang sangat kuat. Bila kita telah masuk ke dalam sistem ini, menjadi bagian dari Korps Praja, maka kita telah menjadi sebuah keluarga besar, saudara yang tidak satu darah tapi merupakan saudara satu perjuangan, satu almamater. Hal ini mampu tertanam dengan jelas dalam setiap benak serta sanubari setiap praja dan bahkan purna praja APDN/STPDN/IPDN.
Hal ini dimungkinkan untuk terjadi karena IPDN menerapkan sistem asrama dalam naungan atau bimbingan Bagian Pengasuhan yang mengharuskan setiap peserta didiknya hidup di dalam kampus, berinteraksi dan bersosialisasi secara terbatas di dalam kampus dengan wajah yang sama setiap harinya.

Tapi untuk saya pribadi, hal itu bukanlah menjadi penyebab utama kenapa rasa persaudaraan dan rasa memiliki di setiap praja dan purna praja bisa begitu kuat tercipta, faktor utama yang saya pikir mendasari itu semua adalah faktor senioritas yang sempat saya singgung di atas tadi. Tidak, tidak, saya tidak akan membahas senioritas dalam perspektif negatif, atau mencoba mengungkit lagi setiap kejadian tragis masa lalu akibat dari suatu senioritas yang melampaui batas, cukup sudah, cukup itu menjadi sebuah masa lalu yang kita ambil pelajaran di dalamnya dan tidak kita ulangi lagi di masa kini. Karena segala sesuatu itu harus berubah, dinamis mengikuti perkembangan zaman, menyesuaikan segala sesuatunya agar bisa tetap eksis dengan selalu mengoreksi diri menjadi lebih baik lagi. Cukup bagi saya menganalisis masalah itu secara singkat dalam tulisan saya yaitu KAMPUS DAERAH DAN SEMANGAT PERUBAHAN.
Ya, faktor senioritas di IPDN memang harus tetap dipertahankan, dalam artian senioritas yang positif tentunya. Hal ini harus tetap dipertahankan karena IPDN merupakan suatu perguruan tinggi kedinasan yang output peserta didiknya sudah secara jelas dipersiapkan untuk menjadi seorang birokrat pemerintahan, yang sangat erat dengan suatu sistem hierarki dalam setiap pelaksanaan tugasnya sehari-hari. Sehingga mau tidak mau peserta didik di IPDN harus secara nyata dan dilatih untuk selalu dihadapkan dengan situasi di lapangan nantinya sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil, yang sekali-kali tidak hanya dituntut mempunyai pemahaman mengenai disiplin ilmu yang baik tapi yang lebih penting lagi harus mempunyai suatu sikap dan moral yang baik dalam setiap pelaksanaan tugasnya. Dan erat kaitannya dengan sistem hierarki yang memang dianut oleh birokrasi pemerintahan kita, maka sikap utama yang diharuskan ada dalam setiap diri PNS itu adalah sikap respect, loyal, disiplin serta cerdas generalis. Hal itu tak akan bisa dilatih hanya dengan teori belaka dan sekedar tatap muka di dalam kelas saja, tapi harus selalu ada implementasi nyata sehari-hari sehingga dengan sendirinya sifat-sifat itu bisa terinternalisasi dalam diri setiap praja.

Senioritas juga masih sangat diperlukan karena sesuai dengan tujuan pendidikan kedinasan ini untuk membentuk seorang pamong praja yang handal. Pamong praja secara sederhananya dapat kita artikan sebagai seseorang yang dipercaya untuk menyelenggarakan pemerintahan atau negara dan harus selalu mengayomi dan memberikan suri tauladan yang baik kepada setiap yang dipimpinnya. Sifat-sifat itu sekali lagi tidak akan mungkin tumbuh dengan sendirinya atau dengan pemahaman teori semata, tapi harus selalu ada praktek nyatanya. Dan dengan senioritas itu maka dengan sendirinya seorang senior belajar untuk selalu mengayomi juniornya, dengan cara memberikan nasihat serta koreksi yang membangun dan apabila senior itu telah mampu untuk memberikan suatu koreksi pada juniornya maka dengan sendirinya akan muncul suatu rasa malu baginya apabila dia sendiri yang justru melakukan suatu kesalahan itu, akan ada suatu dorongan batin yang kuat yang membuat si senior itu dengan sangat alamiah ingin memberikan sebuah teladan yang baik. Dan si junior pun lambat laun akan belajar menjadi seorang “bawahan” yang baik serta taat kepada setiap perintah yang datang menghampiri dirinya.

Dan ya, bagian pengasuhan serta senioritas adalah ujung tombak dalam pembentukan sifat-sifat tadi. Dengan senioritas itu juga maka kami para praja mengenal suatu istilah yang dinamakan doktrin. Doktrin disini berarti suatu wejangan atau bahkan perintah tentang tata cara kita bertingkah laku dalam pergaulan sebagai seorang praja dan nantinya setelah lulus menjadi seorang purna praja, dan setiap doktrin yang ada memang tidak semuanya baik, tidak sedikit yang saya pikir cenderung menyesatkan.

Salah satu doktrin yang hendak saya bahas disini adalah doktrin bahwa setiap praja itu saudara, satu keluarga, menghormati yang lebih tua ( dalam pengertian yang luas tidak terbatas oleh faktor umur ), menghargai yang lebih muda serta harus mampu menjaga putri/wanita satu angkatan, karena wanita adalah adik kita yang harus selalu kita jaga. Segala hal yang terjadi pada putri angkatan kita maka kita lah para praja putra yang harus bertanggung jawab dan menangung segala resikonya.

Konsekuensi logis dari doktrin ini adalah semua junior harus memanggil “kakak” atau sebutan lain yang mempunyai arti sama sesuai dengan bahasa daerahnya masing-masing ( Jabar “Akang-Teteh”, DKI “Abang-Mpok”, Jatim dan Jateng “Mas-Mba”, dsb. ), serta memanggil “adik” atau juga sebutan lainnya yang mempunyai arti sama kepada putri seangkatan kami dan juga kami harus menjaga mereka secara sangat baik, bahkan cenderung memanjakan mereka. Sehingga dalam bahasa lainnya kami dengan rekan-rekan seangkatan secara tidak langsung menjadi berubah statusnya tidak sebagai seorang rekan, teman atau sahabat, tapi menjadi sebuah hubungan kekelurgaan, kakak-adik, dengan putra secara otomatis menjadi seorang kakak dan putri menjadi seorang adiknya.

Perlu saya jelaskan disini, doktrin ini bukan merupakan doktrin “resmi” dari Bagian Pengasuhan, tapi merupakan doktrin turun temurun dari hasil sebuah senioritas itu tadi dan perlu saya jelaskan doktrin ini berjalan atau hidup dari lingkup kontingen terlebih dahulu kemudian akhirnya hidup membesar menjadi lingkup satu angkatan. Karena sistem penerimaan Praja IPDN menggunakan sistem kuota per-Provinsi, sehingga ada perwakilan dari setiap provinsi di seluruh Indonesia yang juga merupakan perwakilan dari setiap kabupaten/kota dari Provinsi tersebut.
Saya ambil contoh Kontingen Jawa Barat asal pendaftaran saya sendiri. Angkatan XXI, angkatan saya total berjumlah 1500 orang dari 33 Provinsi dan Jawa Barat sendiri berjumlah 92 orang yang merupakan perwakilan dari 26 kabupaten/kota yang ada di Jawa Barat. Dan saya merupakan perwakilan dari Kabupaten Bandung Barat, angkatan saya yang juga berasal dari KBB ( Kabupaten Bandung Barat ) berjumlah 6 orang, dengan 5 lainnya putri.
Sudah menjadi tradisi pula, bahwa yang pertama kali memberikan doktrin dan mengurusi suatu kontingen adalah tentu senior yang berasal dari kontingen yang sama. Sehingga saya yang berasal dari Jawa Barat maka yang pertama kali mengurusi saya dan memberikan doktrin tentu adalah senior saya yang berasal dari Jawa Barat. Dan bentuk implementasi dari doktrin mengenai menghormati ke yang lebih tua ( senior ) dan menghargai ke yang lebih muda, maka kami diharuskan memanggil “kang” kepada setiap senior putra yang berasal dari Jawa Barat dan “kakak” kepada senior putra/putri yang bukan dari Jabar serta “teteh” kepada senior putri Jabar dan memanggil “neng” kepada putri seangkatan dan putri seangkatan pun sebaliknya harus memanggil putra seangkatannya yang tentunya berasal dari Jabar dengan sebutan “kang”.

Okay, doktrin ini seperti halnya doktrin-doktrin lainnya yang senior berikan kepada saya, tidak bisa secara serta merta saya terima. Terlepas dari fakta bahwa bibir ini terasa berat untuk memanggil “neng” serta telinga ini terasa geli ketika harus mendengar ada yang memanggil saya “akang”, saya pun tidak terlalu menyukai konsekuensi logis yang ditimbulkan dari hubungan kekeluargaan ini. Ya, saya diharuskan untuk menjaga mereka, memanjakan mereka, dan semua hal itu sangat terasa bagi saya, karena daerah tempat asal saya mendaftar yaitu KBB, hanya saya lah seorang putra, dan lima orang lainnya adalah putri, sehingga dengan doktrin ini maka saya menjadi memiliki lima orang adik perempuan!
Wow!!

Sekali lagi saya tidak akan berbohong, masa-masa awal di IPDN terasa sungguh berat memang, masa-masa bagi saya untuk beradaptasi dengan situasi dan kondisi kehidupan yang serba baru, termasuk hubungan “akang-neng” seperti ini. Segala logika ini belum mampu untuk menerima segala budaya tersebut, diri ini pada awalnya terus melawan. Bagaimana bisa saya harus “dipaksa” menjaga putri-putri tersebut? Ketika hubungan darah pun tak ada, ketika kenal pun baru di saat pendidikan ini??
Terus lama saya coba melawan doktrin itu, terus lama saya belum mampu untuk menerima doktrin itu, sehingga membuat saya menjaga sangat cuek terhadap putri-putri Jabar bahkan putri-putri KBB itu sendiri, saya belum mampu untuk bersikap. Diri ini masih mencari-cari argumentasi serta pembenaran yang bisa membuat saya mengerti untuk akhirnya bisa menerima segala doktrin yang ada.

Dan memang, sebuah kultur yang terbangun oleh suatu sistem terlalu kuat untuk saya lawan, lambat laun tapi sangat pasti, saya mulai bisa menyadari dan mengerti segala doktrin itu. Otak saya mulai menemukan sebuah pembenaran yang telah lama saya cari, dan saya mungkin terlambat akan tetapi saya bersembunyi di balik sebuah pepatah nan bijak bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali? ;)
Saya melihat betapa indah hubungan kekeluargaan itu, saya melihat secara langsung bagaimana kontingen lain bisa begitu akrab, begitu indah dalam kebersamaan, si putra dengan sabar menjaga si putri dan si putri pun menghormati si putra. Indahnya, pikir saya dalam hati. Ada sebuah hubungan timbal balik yang saling menguntungkan saling melengkapi dan di sini saya mulai sangat sadar bahwa setiap doktrin yang ada itu tidak muncul dengan sekonyong-konyong tanpa sebuah sebab tanpa sebuah filosofi yang kuat. Semua ada karena memang harus ada untuk sebuah alasan yang kuat. ( baca : Sebab-akibat ) Begitu juga doktrin ini, saya mulai sadar bahwa doktrin ini muncul karena memang pada hakikatnya putri itu harus selalu ada dalam perlindungan putra, putra bagaimana pun juga dituntut untuk selalu menjadi kuat menadi seorang pemimpin karena sekecil-kecilnya, seburuk-buruknya putra pasti akan menjadi seorang pemimpin, minimalnya pemimpin di dalam rumah tangga dan sebaliknya putri, sepintar-pintarnya mereka, sekuat-kuatnya mereka, mereka harus tetap tunduk pada hakikat awal mereka sebagai seorang wanita seutuhnya yang harus taat dan patuh kepada pria. ( baca : Jangan Pernah Berubah )
Ya, dengan logika sederhana itu saya pun mulai menyadari bahwa doktrin itu memang benar adanya, terlebih lagi dengan fakta bahwa dengan diwajibkannya kita hidup di dalam kampus, di dalam asrama, maka kita pun secara otomatis menjadi jauh dengan saudara kandung kita di daerah sana sehingga secara otomatis pula keluarga terdekat kita adalah tentunya teman-teman, sahabat-sahabat kita yang ada di kampus ini. Karena yang pertama kali akan menolong di saat kita susah, sebagaimana pun hebatnya orang tua kita di sana, tetap yang akan pertama kali menolong dan membantu kita adalah rekan-rekan kita yang ada di kampus ini. Sekali lagi kedua hal itu merupakan sebuah logika yang sangat sederhana, yang saya pikir sudah sangat mampu untuk menjelaskan secara logis doktrin tersebut.
Dan saya pun kini mulai dengan sangat nyaman menjalani posisi itu, menjalani semua doktrin itu. Justru sekarang saya melaksanakan semua doktrin itu tidak karena terpaksa, tidak karena takut kepada senior, tapi semuanya benar-benar saya lakukan ikhlas dari hati, saya lakukan dengan benar-benar sepenuh hati karena telah mampu melihat segala doktrin itu dari suatu perspektif yang positif. Kini saya benar-benar memiliki rasa memiliki itu, rasa tanggung jawab bahwa saya harus mampu menjaga semua adik-adik saya dengan baik, sebuah tanggung jawab yang saya yakin akan saya pertanggung jawabkan kelak.

Di saat saya menyadari itu semua, saya pun mulai untuk semakin akrab dengan adik-adik ( neng-neng) kabupaten saya, yang secara kebetulan memang semuanya putri sehingga saya harus mampu untuk menjadi lebih dewasa menjaga mereka. Lalu setelah itu saya mulai untuk mencoba untuk juga mengakrabkan diri dengan rekan-rekan serta neng-neng satu kares ( wilayah ) Bandung Raya ( Kota Cimahi, Kab. Bandung, Kota Bandung, KBB ), lalu satu kontingen se-Jawa Barat, satu regional Kampus Daerah Kalbar, satu angkatan XXI dan pada akhirnya satu almamater IPDN.

Ya, ini lah satu budaya kekeluargaan yang saya pikir menjadi sangat khas yang akan sangat sulit untuk ditemukan di perguruan tinggi lainnya. Espirit de corps kami telah terbentuk jauh sebelum kami terjun ke lapangan dan semangat yang melandasinya pun adalah sebuah semangat satu keluarga besar sehingga ikatan batin yang tercipta diantara kami, saya yakinkan kepada anda semua SANGAT KUAT, TERLAMAPAU KUAT UNTUK DAPAT ANDA HANCURKAN!

Semangat dan kompak selalu KBB, BANRAY, JABAR, REG. KALBAR DAN ANGKATAN KU ANGKATAN XXI!
Damn, i love u so!!

0 komentar:

Posting Komentar