Sabtu, 03 Oktober 2009

Gempa, Media dan Pemerintah.



Musibah memang mutlak kekuasaan Allah, manusia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menahan itu semua. Tak ada yang bisa kita perbuat kecuali melewati semua cobaan itu dengan sikap tawakal dan sabar. Hmm...belum hilang dari ingatan kita, belum hilang ketakutan kita tentang gempa yang terjadi di Tasikmalaya, yang saya pribadi pun ikut merasakan guncangan akan "kemarahan" alam tersebut. Kita semua, bangsa Indonesia dikagetkan dengan gempa yang terjadi di kawasan Sumatera Barat pada hari Rabu (30/09/10). Gempa pertama terjadi pada pukul 17:16, lokasi 57km barat laut Pariaman, kedalaman 71km dan berkekuatan 7,6 Skala Ritcher. Gempa yang merupakan gempa tektonik itu, ternyata bukan gempa terakhir yang terjadi pada hari itu. Tepatnya, pada pukul 17:38, gempa susulan terjadi di 22km barat daya Pariaman dengan kedalaman 110km, dan kekuatannya mencapai 6,2 Skala Ritcher. Saya pribadi miris mendengar akan hal itu, tak bisa saya bayangkan bagaimana guncangan yang terjadi, perasaan para korban dan tak bisa saya bayangkan bagaimana guncangan bumi pada hari kaimat nanti...

Dampak gempa pun sangat luar biasa, bisa dibilang inilah gempa terbesar yang terjadi di Indonesia, hampir menyerupai gempa di Aceh, tapi tanpa tsunami tentunya. Secara umum gempa menghancurkan infrastruktur yang ada di kawasan Sumatera Barat dan aliran listrik se-Sumbar pun padam. Korban jiwa, berdasarkan data pada hari Jum'at (2/10/09), korban meninggal : 518, luka berat : 90, dan luka ringan : 1590.

Betapa besar akibat yang ditimbulkannya, kita sebagai manusia harus tetap sabar dan kita sebagai sesama manusia tentunya harus mampu dan berusaha menolong saudara-saudara kita di sana, secara moral ataupun materil. Aapalagi, banyak cara yang bisa kita lakukan untuk itu. Saya pikir, pembirataan media massa, entah itu televisi ataupun koran, sangat keterlaluan bila hati kita tidak terketuk untuk ikut menolong saudara kita di sana. Khusus untuk berita yang ada di televisi, saya pikir mereka sudah melewati moral yang ada, dalam artian mereka terlalu membesar-besarkan peristiwa yang terjadi. Sebenarnya, telah sejak lama media massa pertelevisian kita, melenceng dari tujuan awalnya. Seharusnya, sebagai media massa, mereka hanya berkewajiban untuk menyampaikan fakta yang terjadi di lapangan, tapi apa yang terjadi sekarang, mereka kini telah menjadi media pembentuk opini rakyat. Mereka ramai-ramai menggiring rakyat untuk berpendapat pada satu pendapat tertentu. Tak jadi masalah, bila para jurnalis menyisipkan opini mereka, tapi tentunya tanpa merubah fakta yang ada, apalagi merubah fakta itu sendiri untuk kepentingan tertentu. Ada kesan, Bad News Is A Good News For Them.

Dan apa yang terjadi dalam hal pemberitaan gempa yang terjadi di Sumbar ini pun sangat tidak manusiawi, apalagi di televisi, gambar-gambar dan video-video darah, luka para korban, potongan tubuh, mereka ekspos dengan jelas dan terkesan mengeksploitasi itu semua dan menakuti masyarakat pada umumnya. Jika memang mereka ingin mengetuk hati kita semua, saya pikir tidak perlu berlebihan seperti itu. Saya mengharapkan agar para jurnalis lebih peduli tentang permasalahan ini, lebih mementingkan dalam menyampaikan fakta daripada mengedepankan opini. Jangan mengeksploitasi kesedihan, tapi berilah harapan bagi kita semua, bagi para korban.
Kita semua telah bersedih, jadi jangan ingatkan kita tentang kesedihan itu.

Banyak cara untuk menghibur mereka semua, dan cara itu tentu saja dengan memberi mereka bantuan. Pemerintah dalam hal ini, telah memberi bantuan dana darurat sebesar Rp. 250 miliar untuk hampir 200 ribu korban jiwa. Saya pikir itu jumlah yang tidak kecil, tapi menjadi ironi, karena hampir dalam waktu yang berdekatan dana pelantikan anggota DPR/DPD untuk "hanya" 692 orang, menelan biaya sebesar Rp. 46,049 Miliar. Betapa mereka para wakil kita, belum juga bekerja nyata telah menghabiskan begitu banyak uang disaat sedang terjadi musibah. Dan, yang perlu kita ingat, dana bantuan yang ada dari Pemerintah pun belum sepenuhnya tersalurkan, karena lagi-lagi masalah sepele, yaitu masalah birokrasi yang ada. Begitu ironi memang nasib negara kita...

Pada akhirnya, terjadinya suatu musibah, hanya ada karena 2 kemungkinana, yaitu karena Allah ingin mengingatkan kita agar berintrospeksi diri dan senantiasa mengingat-Nya atau karena Allah mengazab kita semua karena kita telah terlalu jauh melanggar segala hal yang telah Dia tentukan bagi kita. Semoga musibah yang terjadi di Indonesia, bukanlah karena alasan yang kedua. Dan, sekarang kita hadapi semua cobaan ini dengan rasa sabar dan sikap tawakal, jadikan cobaan ini sebagai jalan agar kita semakin dekat kepada Allah Swt. .

0 komentar:

Posting Komentar