Selasa, 10 Juni 2014

Awake

SELASA, 10 JUNI 2014
13.51 WIB


Tak seperti biasanya, tulisan ini saya tulis dengan iringan beberapa musik. Biasanya saya selalu menyendiri, tanpa ada suara apapun untuk bisa mencurahkan segala yang saya rasakan ke dalam bentuk tulisan.

Tapi kali ini entah kenapa saya bisa untuk menulis dengan adanya suara latar yang mengiringi. Terasa dramatis memang, tapi juga terasa sulit. Karena otak disibukan juga dengan mengolah lirik dari musik yang saya dengar. Terlebih karena musik yang saya putar berisikan lirik yang mampu menyentuh hati. Ahh, terlalu melankolis sepertinya!

Jadi, tulisan ini saya niatkan untuk “melawan” tulisan saya sebelumnya. Tulisan sebelumnya, 3,586, saya tulis penuh emosi dan berakhir menjadi sebuah keluhan. 

Maka setelah butuh beberapa saat, setidaknya 10 hari, akhirnya saya mampu untuk mencerna semuanya dan berpikir jauh lebih rasional dan mungkin lebih positif.

Maka tak adil rasanya ketika emosi negatif mampu untuk saya kelola menjadi tulisan lalu kenapa emosi positif itu tak juga saya curahkan?

Oleh karenanya, saya coba untuk juga tuliskan dalam tulisan ini. Sekedar berbagi pengalaman.

Kesadaran diri ini muncul setelah seorang teman atau sebut saja sahabat atau entah saya pun sulit untuk mendefinisikannya, tapi untuk mempermudah situasi mari kita sebut dia adalah sahabat saya.

Belum lama kami saling mengenal tapi kami telah mampu untuk menjadi akrab. Dia, dengan karakternya yang begitu ramah sehingga membuat siapapun nyaman untuk menjadi sahabatnya. Dia tak malu atau sungkan untuk memulai pembicaraan sehingga tak sulit bagi kita untuk akhirnya bisa saling mengenal.

Singkat cerita, dia mampu untuk menyadarkan saya dengan sebuah kalimat. Seperti ini mungkin kalimatnya :

Tak ada gunanya bila kita terus menyalahkan orang lain atas kegagalan yang kita peroleh. Dan tak akan ada gunanya juga bila kita terus mengutuk serta menghina diri sendiri atas ketidakmampuan untuk mencapai segala harapan yang telah dengan indah kita tetapkan.

Hal yang terbaik yang seharusnya kita lakukan ketika kita mendapati diri berada dalam situasi seperti itu adalah melakukan introspeksi diri secara menyeluruh dengan terlebih dahulu menerima segala sesuatunya.

Bagaimana caranya kita mampu menerima segala sesuatunya ketika itu tak sejalan dengan harapan kita?

Sebenarnya tak sulit untuk kita menerima apapun yang terjadi, baik atau buruk, kita hanya harus percaya dengan sepenuh hati bahwa hal itu adalah yang terbaik menurut Tuhan, Allah Swt. Bahwa segala apapun yang terjadi, tidak akan mungkin bila itu bukan yang terbaik menurut-Nya. Ya, dalam hal ini terlihat jelas kadar keimanan seseorang.

Dan dalam hal ini, melihat reaksi yang saya tunjukan bahkan tertulis dalam sebuah tulisan, saya masih belum memiliki keimanan yang kuat, saya masih lemah, mudah goyah.

Kemudian secara lebih jauh, dia pun secara tidak langsung mengatakan bahwa mungkin ini adalah hukuman yang diberikan-Nya untuk saya.

Hukuman? Ya, sebuah hukuman. Hukuman bagi saya yang kini tak lagi dekat dengan-Nya.

Jujur kalimat itu-lah yang kemudian paling menusuk relung hati saya yang paling dalam. 

Saya kemudian kembali mencoba mengingat bahwa “dulu” saya pernah begitu dekat dengan-Nya. Bahwa dulu saya begitu sangat sering untuk sholat berjamaah di masjid, dan bahkan menjalankan beberapa sunah Rasul dalam ibadah. Saya kemudian mengingat itu semua, bahwa saya pernah seperti itu. Pernah sedekat itu dengan-Nya.

Bahkan saya yang dulu begitu rajin untuk beribadah, masih belum Dia percaya untuk sepenuhnya menggapai segala harapan yang saya idamkan. 

Lalu apa logika dan argumen bagi saya ketika kini saya yang telah jauh dengan-Nya mengharapkan untuk juga bisa mendapatkan semua harapan yang saya miliki?

Sungguh sebuah ego yang bodoh!

Saya tak akan menyalahkan keadaan, ini murni karena saya yang memang belum mampu untuk menjadi seseorang yang baik juga konsisten dalam menjalankan kebaikan itu.

Saya pun begitu menyadari bahwa tak perlu waktu lama bagi saya untuk berubah dari seseorang yang setidaknya sedikit bermanfaat menjadi seseorang yang sepenuhnya tak berguna.

Sholat berjamaah apalagi di masjid tak lagi saya lakoni, semua ibadah sunah benar-benar saya lupakan. Kehidupan saya benar-benar berubah 180 derajat, tak ada bekas sedikitpun dari hal-hal baik yang sebenarnya telah lama saya lakukan. Saya hanya begitu saja menyerah pada keadaan. Takluk dan tak mau lagi untuk sekedar mengusahakan.

Bila begitu bukankah wajar apabila saya mendapatkan “hukuman” dari-Nya? Bukankah justru sangat masuk akal bagi-Nya untuk tidak mempercayai saya menggapai semua harapan yang telah saya inginkan?

Ya, ini-lah yang terbaik untuk seseorang yang hanya beribadah alakadarnya. Ini-lah kehidupan yang lebih dari cukup untuk seseorang yang melupakan cara beribadah yang baik pada-Nya. Kenapa saya harus meminta lebih?

Dan ya, kalimat-kalimat itu yang kemudian menyadarkan saya. Bahwa mempersiapkan mental melalui ibadah adalah hal yang terbaik yang harus juga kita persiapkan ketika kita juga berusaha maksimal dalam menggapai segala harapan yang kita buat.

Bahwa ikhlas menerima segala sesuatunya itu tidak akan muncul tanpa melalui ibadah kita kepada-Nya.

Pemikiran yang sebenarnya sederhana itu, setidaknya cukup untuk membuat saya sadar dan mulai untuk kembali mengulang segala yang pernah saya lakukan di “waktu itu”, di kala saya masih bisa untuk menjadi seseorang yang “bermanfaat”.

Sedikit demi sedikit saya lakoni lagi itu. Dengan niatan tidak untuk sesuatu hal yang khusus, tapi benar-benar atas kesadaran saya bahwa saya membutuhkan-Nya lebih dari saya membutuhkan segala harapan saya menjadi nyata.

Bahwa dengan saya mendekatkan diri kepada-Nya maka ketenangan hati itu akan muncul dan apapun yang terjadi nantinya tak akan lagi menjadi sebuah beban bagi saya.

Bahwa ketika nanti saya mulai lagi untuk bermimpi besar, saya pun tak akan takut untuk kembali kecewa sangat dalam, karena saya mempunyai Dia, karena toh saya telah dan selalu dekat dengan-Nya. Apalagi yang harus saya takutkan?

Saya telah berusaha, dan saya pun telah berdoa, lalu bisa apa saya setelah itu?

Tulisan ini kemudian saya akhiri dengan sebuah harapan bahwa jangan sampai saya yang kini telah sedikit menyadari harus kembali masuk ke dalam ketidaksadaran, saya berharap bisa untuk sepenuhnya sadar serta terus mampu untuk konsisten dalam menjalani kesadaran ini.

Hell yeah, that #PMA is back!

oh iya, terima kasih juga untuk dia, yang saya sebut sebagai sahabat..

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. So where could i find the "tag as favorite" button??

    BalasHapus