Senin, 02 Juni 2014

3,586

SENIN, 2 JUNI 2014
14.33 WIB


Jujur, entah dari hal apa saya harus menuliskan tulisan ini. Karena pada akhirnya tulisan ini akan menjadi sebuah tulisan penuh keluhan.

Pada akhirnya, sehebat apapun saya mengolah kata dan mengatur tata letak kalimat, akan terbaca seperti sebuah tulisan yang ditulis penuh dengan emosi dan rasa iri.

Hanya akan menunjukan sisi negatif sebentuk ketidakmampuan untuk menerima kenyataan dan mensyukuri segala apa yang ada dan terjadi. Padahal sungguh, setiap yang telah terjadi adalah segala yang terbaik menurut Tuhan, Allah Swt.

Bilapun tidak begitu tulisan ini akan bernada sama dengan tulisan saya terdahulu semisal, Tentang Nilai apakah relevan?, Air mata ini bukan untuk kalian, (masih) D4 atau S1, D4 atau S1, Dengarkan curhatku, Proses yang benar atau Hasil yang baik, dan Realistis bukan pesimistis.

Tulisan-tulisan tersebut merupakan perpaduan antara ego, kesombongan, dan juga kebodohan. 

Saya sebut kumpulan ego karena saya menulis murni menuruti apa yang benar dalam hati serta otak sendiri tanpa mau melihat ke sekitar atau sekedar mencoba untuk membandingkannya. 

Lalu sebuah kesombongan karena memang tulisan itu didasari oleh keyakinan bahwa saya ini mampu dan “lebih” dari orang-orang yang ada di sekitar. 

Tapi juga sebuah kebodohan karena pada kenyataan, berdasarkan hasil yang telah ditetapkan dan diakui oleh kebanyakan orang, saya itu tak lebih dari seorang yang hanya mampu berkata-kata tapi tak memiliki makna, tak memiliki sebuah kecerdasan dibandingkan orang lain.

Saya katakan itu karena itu adalah senyatanya apa yang terjadi. Karena hal itu terus terjadi berulang kali. Bila hanya terjadi untuk sekali atau dua kali, saya masih mampu mengatakan bahwa itu sebuah kebetulan atau ketidakberuntungan. Tapi bila terus terjadi setiap waktu, maka saya harus segara bangun dan berintropeksi diri.

Sehingga itu-lah yang yang terjadi sekarang ini.

Di akhir masa pendidikan selama 4 (tahun) di kampus ini. Sebelum nantinya saya melangkahkan kaki dan hidup di dunia nyata, saya harus terlebih dahulu menyadari siapa sebenarnya diri ini.

Ya, predikat untuk diri ini telah secara resmi dikeluarkan oleh lembaga pendidikan sehingga saya tak bisa lagi untuk mengelak atau mencari-cari sejuta alasan. 

Tak ada lagi pembenaran bahwa saya sebenarnya “lebih”. Kini saya harus sadar dengan segala kesadaran yang ada, bahwa saya hanya “biasa”. Nilai itu telah lebih dari cukup membuktikan.

Saya harus kembali menata diri, melakukan konsolidasi diri. Melakukan segala pembenahan untuk setiap mimpi dan pemikiran yang ada terhadap diri sendiri. Bukan dalam artian takut untuk bermimpi, tapi dalam artian bermimpi dalam batas kemampuan yang saya miliki. Kemampuan yang diakui oleh kebanyakan orang di negeri ini bukan oleh standar yang hanya dipahami sendiri!

Cukup bagi saya untuk berharap tinggi hanya didasari oleh kesombongan diri, mulai saatnya kini saya untuk jangan lagi kecewa karena kemudian segala harapan itu tak mampu terwujud menjadi sebuah kenyataan. 

Itu bukan kesalahan harapan, tapi kesalahan itu terletak pada orang yang membuat harapan.

Maksud saya adalah memang tidak ada yang tak mungkin di dunia ini, tapi segala yang tak mungkin itu tetap harus kita teliti dari segala kemungkinan yang sesuai dengan kondisi yang kita miliki. Seperti misalnya, seseorang yang berharap untuk bisa terbang, tentu harus segera merevisi harapannya itu karena dia sangat mungkin untuk kecewa.

Contoh seperti itu harus segera saya terapkan, cukup saya menjadi manusia yang kecewa karena harapan yang terlalu tinggi dan tak sesuai dengan kemampuan itu hanya di sini, di lembaga ini. 

Sesaat setelah nanti saya menginjakan kaki meninggalkan segala yang ada di kampus ini, saya harus benar-benar menjadi seseorang yang realistis. Tak harus melulu optimis, cukup realistis. Kalaupun optimis tetap dalam lingkaran realistis.

Dan kini, saya harus menghadapi malu terhadap diri sendiri dan mungkin beberapa orang yang juga telah saya “jejali” segala harapan yang saya miliki. 

Bahwasanya saya tak mampu untuk mewujudkan segala harapan itu dan bahwasanya orang-orang itu akan melihat secara nyata siapa saya sebenarnya. 

Karena seseorang itu bukan berdasarkan harapan yang dia miliki tapi seseorang itu adalah tentang apa yang mampu yang dia capai secara nyata. Harapan itu hanya harapan.

Melihat segala harapan yang saya telah miliki, dan kenyataan yang sekarang telah terjadi, maka pantas bagi saya untuk menyematkan diri ini sebagai pecundang. Tak ada kebanggaan, tak ada harga diri.

Sekian dan tak ada #PMA.

1 komentar:

  1. sebuah tulisan yang indah tetapi juga sekaligus miris ketika membacanya.
    Ketiak mengatakan kita belum bisa memberikan apa-apa untuk orang tua kita, belum bisa membanggakan orang tua kita ingatlah 1 hal bahwa sebenarnya untuk orang tua, hal-hal kecil positif yang telah kita lakukan selama ini sudah jauh dari cukup membuat mereka bangga.
    So,,, believe it, that you are not a looser..

    BalasHapus