Kamis, 07 Februari 2013

Tentang nilai, apakah relevan ?


Rasa-rasanya setiap kali saya bertemu dengan moment seperti ini, dihadapakan lagi dengan situasi dan kondisi seperti ini maka reaksi serta respon yang saya berikan selalu sama dan setelah saya telaah lebih jauh, saya dapati diri saya ini berlari-lari dalam lingkaran ( setan ) yang sama. 
damn! 

Tapi apa mau dikata? 
ini memang realita, saya pun tidak meminta untuk selalu berpikir serta merasakan hal yang sama dan ini juga bukan berarti kehidupan saya berjalan di tempat, stagnan, tidak ada perubahan atau saya hidup seperti orang yang mati. 
Tidak, ini juga tidak berarti seperti itu. 
Apa yang hendak saya sampaikan adalah berkenaan dengan permasalahan sebuah proses yang selalu juga melibatkan sebuah hasil, pasangan serasi yang tercipta untuk selalu bersama hingga dunia ini tiada. Atau dalam bahasa yang lebih sederhananya, bahasa yang lebih mudah untuk dipahami dalam kehidupan sehari-hari seorang akademisi adalah pergulatan batin mengenai kejujuran, prestasi, apresiasi, dan sebuah nilai. 

Sudah banyak tulisan yang telah saya buat dengan pikiran utama berkenaan dengan proses, hasil, nilai, kejujuran, ataupun prestasi, mari coba kita liat : 
Woow, bukankah itu sudah cukup untuk mengungkapkan apa yang menjadi prinsip dan konsep dalam hidup saya? 

Apakah justru tidak membuang waktu, tenaga serta daya, saya terus dan terus menuliskan itu semua? 

Pikiran dan gagasan pokok yang relativ sama hanya saja dibungkus dengan kemasan yang sedikit berbeda sehingga terasa agak lain di logika. Tapi sekali lagi, ini tidak dibuat dengan percuma, ini semua curahan hati, emosi, jiwa, juga idealisme saya, setidaknya untuk sekarang ini dengan segala ilmu, sikap, keterampilan, status dan segala apapun yang saya miliki sekarang. 
Bila kemudian hal itu terus saya bahasakan, terus saya kemukakan maka jelas hal itu sangat mengganggu sistem kerja otak maupun hati dalam tubuh ini. Saya hanya mencoba tidak munafik, menuliskan apa saja yang ada dalam otak serta terasa dalam hati, it is simple! 

Maka kali ini pun sama, saya dihadapkan lagi dengan sebuah ujian dan respon saya pun tetap sama. 

Dan ini argument saya yang mungkin terbaru mengenai betapa tidak relevannya ketika kita hanya menilai dan men-judge seseorang dari sebuah nilai akhir semata, ketika kita hanya memberikan nilai atas sebuah kemampuan seseorang dari sebuah tes ujian. 

Begini ilustrasinya : 

saya dan 84 orang rekan lainnya berada dalam satu kampus, satu jurusan dan fakultas yang sama serta tentunya dengan mata kuliah dan pelatihan yang juga sama. Tapi kemudian kami dibagi ke dalam empat kelas dan setiap kelas mempunyai dosen dan pelatih yang berbeda untuk setiap mata kuliah maupun pelatihan yang ada. 
Ya, setiap dosen, setiap pelatih atau kita katakan saja pengajar, pasti memiliki gaya mengajar dan cara penyampaian materi yang berbeda, setiap pengajar pasti mempunyai ciri khas, kelebihan serta kekurangan yang tak bisa kita hindari. Tapi satu hal yang pasti, konsep yang juga terdapat dalam sebuah pelayanan bahwa walaupun pelayanan yang dilakukan oleh setiap pelayan itu akan berbeda tapi setidak-tidaknya mereka harus memenuhi syarat minimal sehingga mampu untuk memenuhi standar pelayanan minimal. 
Begitu juga ketika kita kaitkan dengan pembelajaran yang ada di kampus ini, walaupun setiap pengajar pasti mempunyai kelebihan serta kekurangannya dalam menyampaikan materi tapi setidak-tidaknya dengan siapapun pengajarnya, dengan cara apapun pengajar itu menyampaikan materi, harus memenuhi syarat minimal sehingga mahasiswa ( dalam hal ini praja ) kelas apapun dia berada, siapapun pengajarnya, memiliki standar kompetensi yang sama, pemahaman minimal yang juga sama. Hal itu dimungkinkan untuk dilakukan apabila setiap pengajar dibekali silabus mata kuliah atau mata pelatihan yang mereka ajarkan. 
Tapi pada kenyataannya, setidaknya untuk beberapa semester yang telah saya lalui, dosen, pelatih yang ada di kampus ini sama sekali tidak dibekali dengan silabus itu sehingga mereka membuat sendiri silabus dan pada akhirnya setiap pengajar memberikan standar kompetensinya masing-masing pada setiap kelas yang dia ajarkan. 

Kemudian, seperti yang telah saya sebutkan di atas, setiap pengajar pasti memiliki ciri khas, kelebihan serta kekurangan dalam menyampaikan setiap materi yang dia ajarkan. Hal itu pun sangat berbanding lurus dengan karakter dari pengajar tersebut. Tentu kita, para mahasiswa, atau bahkan peserta didik di setiap tingkatan, tak asing lagi dengan istilah killer yang kita sematkan pada pengajar yang kita anggap sama sekali tidak mempunyai hati nurani dalam memberikan nilai. 
Maka kaitannya dengan hal ini adalah misalnya saya berada di kelas A dan teman saya di kelas B pada mata kuliah atau mata pelatihan yang sama dengan pengajar yang berbeda lalu dihadapkan pada sebuah ujian akhir semester. Pengajar di kelas saya sama sekali tidak memberikan kisi-kisi soal ujian yang nantinya akan dia ujikan akan tetapi pengajar di kelas B dengan baik hatinya memberikan kisi-kisi soal yang dia ujikan di kelas itu. 
Maka apakah pada hasilnya nanti akan sama nilai A yang saya dapat tanpa sebuah kisi-kisi dengan nilai A yang teman saya dapat dari sebuah ujian yang telah diberitahu kisi-kisinya? 
Pada praktiknya dengan perbedaan itu maka tingkat kesukaran satu soal dari satu kelas dengan kelas lainnya pada satu mata kuliah yang sama berbeda sehingga pada sebuah mata kuliah dimungkinkan ada satu kelas yang semuanya mendapatkan nilai A, bukan karena memang orang-orang itu mempunyai kemampuan untuk mendapatkan nilai A tapi lebih karena kebaikan dari dosen yang mengajar di kelas tersebut. 

Dan ketika kemudian ada seseorang yang memberikan nasihat bahwa tetap saja mendapatkan nilai B dari sebuah soal yang susah itu lebih berharga daripada mendapatkan nilai A dari sebuah soal yang mudah, lantas berharga di mata siapa? 

Maksud saya, itu semua hanya sebatas lahiriah, tapi apa yang orang luar lihat, apa yang orang-orang nilai tidak seperti itu, yang hanya ingin mereka ketahui adalah nilai apa yang kita terima dan mereka tak peduli sedikit pun dengan soal seperti apa yang kita kerjakan, apakah mudah, sulit, atau ada tidaknya kisi-kisi. 
Tidak, mereka sekali lagi tidak peduli dengan hal-hal itu! 

Maka di keadaan seperti itu, dengan ilustrasi nyata yang telah saya gambarkan, saya pikir wajar kemudian saya berteriak, adil-kah dunia pendidikan seperti itu? 

Adil-kah kemudian menghakimi seseorang sepanjang hidupnya dengan sebuah nilai, entah itu dalam bentuk huruf maupun angka, sementara nilai-nilai itu hanya diukur dari sebuah tes tertulis semata? 
Tak ada proses yang mereka lihat, tak ada kesamaan standar kompetensi, tak ada perubahan sikap yang mereka pertimbangkan, sekali lagi saya tanya, masihkah semua itu relevan? 

Sebenarnya prinsip saya sederhana tapi entah kenapa sepertinya lingkungan sama sekali tidak memberikan ruang bagi saya untuk mengekspresikan prinsip itu, kita tak harus mengejar nilai karena ketika kita hanya mengejar nilai maka kita akan cenderung melupakan proses atau pemahaman kita terhadap sebuah materi pengajaran ataupun pelatihan tapi kejar-lah pemahaman kita terhadap setiap materi yang kita dapatkan maka dengan sendirinya nilai yang baik itu pasti akan mengikuti. 
Tapi sayangnya, dunia tidak berjalan ideal seperti itu, masih terdapat ruang untuk mereka yang hanya mengejar nilai dan akhirnya saya pun terjebak dalam situasi seperti itu. 

Menutup ini semua, silahkan kalian sebut ini sebuah curahan, sebuah pelampiasan emosi, hujatan atau apapun itu, saya harap para pendidik, para pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan serta semua stakeholders dalam dunia pendidiakn bisa untuk merumuskan sebuah formulasi pemberian nilai yang lebih adil dan proporsional berdasarkan pengamatan yang komprehensif sehingga peserta didik pun mampu untuk terapresiasi sesuai dengan prestasi dan kemampuan yang mereka miliki. 

Harapan untuk saya pribadi adalah semoga saya tetap teguh dengan segala idealisme baik yang saya miliki dan luwes dalam menjalankan setiap idealisme itu. 

Allah tidak tidur dan dunia ini akan selalu bergerak meunuju titik keseimbangannya. 

PMA always! ;)

5 komentar:

  1. kalau saya yang mengalami hal itu dan ternyata dosen saya tidak memberikan kisi-kisi, tetapi teman saya dikelas sebelah memperoleh kisi-kisi, berarti teman saya memang beruntung, dan saya alhamdulillah termasuk belum beruntung, jadi saya harus mengoptimalkan tingkatan belajar saya...agar saya tidak bergantung kepada kisi-kisi dan bisa memperoleh nilai yang bagus...itu kalau saya loh ... :)

    BalasHapus
  2. @Blogs of Hariyanto : betul pak, saya juga setuju seperti itu. Tapi kemudian apakah sama kualitas "nilai yang bagus" itu apabila jelas dalam sebuah proses yang berbeda? pada kenyataannya semua memukul rata, dan bila seperti itu bisa apa kita?

    BalasHapus
  3. ada award buat yg empunya lapak, comot disni:

    http://bumiaccilong.blogspot.com/2012/05/awarding.html

    sori, out of case

    BalasHapus