Sabtu, 18 Juni 2011

Ny. Siami : Pahlawan tanpa Topeng

”Menyontek adalah awal dari korupsi. Jika perbuatan curang ini sudah dianggap biasa, maka ini akan membuka perilaku yang lebih menghancurkan masyarakat. Tentu tidak ada yang mau demikian,”
Prof Daniel Rosyid (Ketua Tim Independen Pencari Fakta dan Penasihat Dewan Pendidikan Jatim)

"Bila yang jujur sudah dianggap pengkhianat, dan yang da'wah sudah disangka pemecah belah, sebaliknya penjahat sudah merasa dirinya pahlawan !"
Deddy Rahman (Ustadz Dialog Islam Bandung)


Ujian Nasional SMA, SMP, dan SD telah selesai dilaksanakan. Dan akan benar-benar selesai setelah pada hari senin, tanggal 20, bulan Juni, tahun 2011 nanti hasil UN tingkat SD, yang merupakan UN untuk tingkatan paling rendah sekaligus UN terakhir yang dilaksanakan akan secara resmi mengumumkan hasilnya. Sebelumnya hasil UN SMA dan SMP telah diumumkan terlebih dahulu, yang secara hasil ataupun proses pelaksanaan relatif tidak terlalu mengundang banyak perhatian ataupun sebuah kontroversi walaupun masih ada indikasi kecurangan di sana-sini dan juga hasil yang tidak terlalu menggembirakan bagi setiap sekolah yang melaksanakan UN tersebut. Masih ada beberapa SMA dan SMP dengan tingkat kelulusan yang rendah dan bahkan secara massal murid-muridnya tidak lulus UN tahun ajaran 2010-2011 ini.

Akan tetapi hal yang membuat khalayak luas terkejut dan bahkan sangat terkejut adalah tentang terjadinya sebuah kontroversi yang terjadi pada UN di tingkatan pendidikan paling rendah yang melaksanakan UN yaitu SD, yang sebenarnya menurut pengamatan saya di setiap tahunnya diselenggarakan suatu Ujian Nasional, tidak begitu banyak dan cenderung tidak ada suatu permasalahan. Tetapi pada penyelenggaraan tahun ini yang dilaksanakan pada tanggal 10-12, bulan Mei, tahun 2011 lalu ternyata terdapat suatu kontroversi atau dalam kata lain, bisa secara jelas kita sebut sebagai suatu indikasi kecurangan yang dilakukan oleh oknum guru di salah satu sekolah dasar di negeri Indonesia tercinta ini.

Adalah Nyonya Siami yang menjadi aktris utama dalam kontroversi ini. Dia secara berani bersuara lantang membuka suatu aib yang dia rasa sangat tidak sesuai dengan suatu aturan yang ada dan bisa meracuni setiap anak bangsa yang ada di seluruh pelosok negeri ini apabila terus dibiarkan. Dia membongkar contek massal yang terjadi di SD Negeri Gadel II Surabaya. Awal kisah terjadi ketika anaknya, Alifa Ahmad Maulana, dengan bergelinang air mata bercerita kepadanya bahwa pada penyelengggaraan UN di sekolahnya, yaitu di SD negeri Gadel II, dia dipaksa untuk memberikan contekan kepada teman-temannya yang lain. Karena Alif, begitu biasa ia dipanggil memang dikenal sebagai siswa yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata siswa-siswa lainnya. Alif tidak serta merta menceritakan kejadian itu secara langsung kepada ibunya, tapi dia menceritakan seluruh kejadian itu setelah ibunya, Nyonya Siami, mendapatkan cerita dari sesama rekan orang tua murid yang anaknya mendapatkan contekan dari Alif. Tidak terima dengan kejadin itu, Ny. Siami segera mendatangi Kepala Sekolah dan bertanya secara langsung tentang kejadian tersebut, tetapi merasa tidak mendapatkan suatu jawaban yang memuaskan lantas dia pun meneruskan pertanyaan itu pada pihak komite sekolah, dan lagi-lagi tidak ada suatu tanggapan yang bisa memuaskan hati seorang Ibu yang tidak rela anaknya ditanami nilai-nilai ketidakjujuran semenjak kecil dan dari sebuah lembaga pendidikan. Puncaknya dia membeberkan semua kejadian ini kepada pihak media, dinas pendidikan daerah setempat dan akhirnya sampai juga lah pada pimpinan tertinggi, yaitu Walikota Kota Surabaya. Dampak dari kasus tersebut adalah Kepala sekolah dan dua oknum guru telah dicopot dari jabatannya masing-masing serta pangkat dan golongan PNS nya diturunkan satu tingkat. Pihak pemerintah daerah pun segera membentuk tim independen pencari fakta. Simpang siur sempat membuat cemas orang tua murid lainnya, karena kemungkinan besar akan diadakannya UN ulangan di SD tersebut. Tapi, belakangan kekhawatiran terebut tidak menjadi suatu kenyataan karena setelah melihat hasilnya secara langsung, pemerintah tidak menemukan bukti nyata bahwa telah terjadi suatu contek massal karena jawaban UN dari setiap siswa di SD negeri Gadel II tersebut pun sangat beragam dan tidak sama secara identik. Kemungkinan besar jawaban yang diberikan oleh Alif tidak semuanya dia tulis sama dengan apa yang dia miliki dan bahkan murid-murid lainnya pun tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban tersebut.

Suatu peristiwa yang sekali lagi saya katakan cukup mengejutkan saya, tapi secara jujur saya katakan saya tidak terkejut dalam konteks menyontek massal, tapi saya terkejut dengan keberanian yang benar-benar berani dari seorang Ibu, seorang masyarakat biasa. Nyonya Siami warga Jl. Gadel Sari Barat, Kecamatan Tandes, Surabaya, yang hidup sederhana dari penghasilannya sebagi seorang penjahit. Tapi mempunyai keberanian melebihi seorang legislator, yang hanya mampu berkoar. Lalu mengapa saya tidak terkejut dengan peristiwa contek massalnya? Saya adalah seorang mahasiswa, yang dalam prosesnya saya pernah dalam posisi sebagai seorang siswa dari mulai tingkatan SD, SMP dan SMA. Dan untuk melewati setiap tingkatan itu, saya pun harus melewati dan lulus dari apa yang biasa kita sebut dengan UJIAN NASIONAL. Saya munafik bila saya berkata saya terkejut dan buta dengan segala peristiwa berkenaan dengan menyontek massal tapi saya pun tidak terlalu mempunyai keberanian untuk mengatakan dan bercerita secara gamblang tentang apa yang terjadi pada setiap perhelatan ujian nasional yang telah saya lewati itu. Saya penakut, saya masih seorang pecundang untuk masalah ini.

UN SMA adalah UN yang paling menegangkan yang saya alami, dan saya pun telah menuangkan semua perasaan itu pada beberapa tulisan dan bebarapa tulisan itu juga berisi kritikan saya terhadapa pelaksanaan UN sebagai bentuk ketidaksetujuan saya dalam kebijakan pemerintah dalam melaksanakan suatu Ujian Nasional untuk menentukan setiap kelulusan siswa di setiap tingkatan pendidikan. ( baca : UN 2009/2010 ) Secara garis besarnya saya berpendapat bahwa UN terlalu mendewakan sebuah hasil tanpa melihat dan bahkan telah menafikan sebuah proses pendidikan. UN juga mengeneralisasikan semua kualitas pendidikan di setiap daerah yang ada di Indonesia, padahal secara sadar pemerintah pun tahu bahwa dalam praktenya kualitas pendidikan kita masih sangat timpang di satu daerah dan daerah lainnya. Walaupun kriteria kelulusan telah dirubah sedemikian rupa, akan tetapi intinya tetap sama pemerintah masih menilai dan menentukan kelulusan dari sebuah nilai, tidak dari sebuah proses. Sehingga akhirnya fokus setiap sekolah apabila UN akan dilaksanakan bukanlah untuk mendidik murid-muridnya melalui sebuah bahan pelajaran, tapi menjadi berubah sebagai bimbingan belajar mengajari segala tips untuk lulus UN dan hanya mempelajari contoh-contoh soal yang kemungkinan besar akan keluar di UN nantinya. Jadi, sistem yang tidak tepat, tak akan mungkin bisa diimplementasikan secara tepat.

Indikasi-indikasi kecurangan yang selalu terdengar setiap tahunnya di pelaksanaan UN di setiap tingkatan pendidikan sebenarnya adalah suatu bentuk nyata dari sebuah implementasi yang tidak tepat dari sistem yang tidak tepat. Kecurangan itu merupakan suatu indikasi kepanikan dari setiap penyelenggara pendidikan karena hanya terfokus dalam sebuah hasil akhir, 3 tahun belajar hanya ditentukan dalam waktu lima hari saja.

Dan itulah yang terjadi di SD Negeri Gadel II, kecurangan dalam sebentuk paksaan dari oknum guru kepada salah satu muridnya untuk memberikan contekan kepada teman-temannya yang lain adalah buah dari sebuah kepanikan. Dan saya yakin ini bukanlah merupakan inisiatif pribadi dari oknum guru itu saja, tapi kecuranagan yang terjadi dalam penyelenggaraan UN adalah sebuah kecuranagan yang sistematis. Itulah yang dicoba dilawan oleh seorang Nyonya Siami, mencoba memberitahu kepada masyrakat tentang suatu kecuranagan yang terjadi walaupun sebenarnya masyarakat telah mengetahui permasalahan itu secara sadar. Dan disinilah letak permasalah lainnya muncul, yaitu suatu pembenaran atau pemwajaran terhadap suatu kesalahan atau kecurangan yang telah lama terjadi. Nyonya Siami yang atas tindakannya ini telah berubah menjadi seorang pahlawan, tetapi sebagai seorang pahlawan dia tidak mendapat sebuah apresiasi ataupun suatu puja-puji, tapi cercaan yang justru yang ia dapati. Ya, dia mendapatkan berjuta apresiasi dan penghargaan setinggi langit dari kalangan media, elite politik dan kalangan terepelajar lainnya, tapi itu semua menjadi percuma ketika semua golongan yang memberikan penilaian positif terhadap tindakannya itu menjadi suatu kaum yang minoritas karena pada kehidupan nyata yang benar-benar dia rasakan, dia dicerca habis-habisan dan bahkan diusir paksa dari tempat tinggalnya. Suatu ironi!

Itulah sesuatu yang sangat mengerikan yang apabila terus kita biarkan apalagi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara kita yang sangat mendewakan Demokrasi, sehingga mayoritas lah yang utama, Winner Takes All. Padahal esensi utama bukanlah mayoritas yang memaksakan kehendak dan minoritas yang terus-terusan tertekan, seharusnya tercipta sesuatu hal yang bernama “equal respect” antara kedua kaum itu, sehingga entah dia mayoritas atau minoritas apabila setelah didiskusikan ternyata dia bernilai salah dan menyalahi aturan maka secara legowo harus mengakuinya dan harus segera diperbaiki. Tapi, inilah demokrasi dalam suatu negara yang sedang berkembang, dalam masyarakat yang masih dalam masa transisi, demokrasi belum mengakar terhadap nilai-nilai utamanya tapi masih menjadi sebuah baju yang hanya kita kenakan tanpa kita ketahui maknanya.

Sekali lagi saya katakan sebuah kecurangan dalam sebuah pelaksanaan UN, adalah suatu tindakan yang harus segera dirubah. Saya secara pengecut, tidak bisa lagi berkata jauh mengenai permasalahan ini, saya hanya mampu berkata bahwa tindakan ini salah dan harus dirubah, saya hanya mampu berkata sebatas itu, tanpa mampu memberikan suatu wejangan ataupun analisis sok suci, karena saya adalah orang-orang yang pernah merasakan apa yang sebenarnya terjadi pada permasalahan itu. Tanpa banyak bicara dan tanpa banyak berkomentar, saya akan berusaha merubah semua kebijakan itu dan bahkan semua kebijakan serta aturan salah, yang menyebabkan suatu kecurangan ataupun kesalahan yang dilakukan secara sistematis, melibatkan pihak-pihak dalam pemerintah. Karen jalan yang sedang saya rintis sekarang adalah jalan menuju dunia birokrasi pemerintahan. Dan semoga cita-cta idealis ini mampu saya wujudkan dan tidak serta merta justru ikut terlilit oleh sebuah lingkaran setan kesalahan. Dan terus terjerembab menjadi seorang yang munafik, lain di lidah, lain di sikap.

Saran saya kepada mereka kaum minoritas benar, yang melawan kedigdayaan kaum mayoritas salah, bertindaklah secara bijak dan penuh perhitungan. Jangan anda terlalu berani hingga kurang hati-hati atau menjadi melakukan suatu tindakan yang terlalu radikal, karena anda kemungkinan besar akan mati konyol. Apalagi anda yang secara jelas hanya rakyat biasa, karena memang suatu kesalahan apabila kita menunggu datangnya suatu kekuasaan untuk menegakan suatu kebenaran akan tetapi suatu kekeliruan juga apabila kita menegekan kebenaran tanpa mempunyai suatu kekusaan. Jadi, bertindak secara realistis dan nyata serta positif dalam peran dan status yang anda miliki sekarang.

The last but not least, teruntuk Nyonya Siami bagaimanapun anda adalah seorang pahlawan tanpa topeng, yang secara berani mengungkapkan suatu kesalahan yang anda ketahui secara jelas oleh mata, pikran serta nurani anda. Tindakan anda tetap jauh lebih baik daripada tindakan besar oleh mereka yang hanya berani menjadi pahlawan bertopeng.

0 komentar:

Posting Komentar