Kamis, 23 Juni 2011

Meratapi Nasib Penuh Rasa Iri

Kalian cape, dan aku dongkol !
Ini adil, karena kita sama-sama merasakan hal negatif.

Tapi, menjadi tak adil ketika negatif yang kalian rasakan akan berubah menjadi positif,
sedangkan negatif yang ku rasakan akan tetap menjadi negatif.

Inilah situasi ketika rasa iri sudah meninggi,
Ketika hati tak bisa berbesar lagi menerima segala kenyataan hidup yang terjadi.

Ya, diskriminasi penuh intimidasi yang ku rasakan menusuk tajam ke relung hati,
mematikan saraf dalam diri, serta merusak kerja otak kanan dan otak kiri.
Hingga akhirnya melakukan sebuah resistensi, membangkang penuh emosi dengan segala tindakan anarki destruktif.

Tak bisa ku bendung, mulut ini mulai menghujat, menghardik, mencaci dan memaki.
Dan saat mulai tersadar,
Ketika emosi telah hilang karena hati telah tenang.
Ku ratapi semuanya telah tersakiti,
Oleh segala teriakan yang penuh tendensi untuk memaki.
Hanya lelah dan dosa yang kudapati.
Tak kurang, tak juga lebih.
Karena penyesalan akan selalu datang di saat paling akhir.

Mengerti tapi terus terjadi !
Damn!!

0 komentar:

Posting Komentar