Jumat, 20 Rajab 1447 H / 9 Januari 2026
07.26 WIB
Bissmillah wa shallatu wa sallam ala rasulillah
PENDAHULUAN
Di awal, kami akan tegaskan terlebih dahulu bahwa saat ini kami berusaha untuk menjalankan keyakinan untuk hidup sedekat mungkin dengan syariat Islam sesuai dengan pemahaman salafus shalih. Walhamdulillah, sependek pemahaman kami, di negara Indonesia saat ini, prinsip hidup yang coba kami jalankan, tidak bertentangan dengan hukum positif apapun. Bahkan secara ideologi negara yang berlaku, sebagaimana yang tercantum di Pancasila, dan bahkan ditegaskan ulang di dalam UUD 1945, Indonesia sangat menjamin kehidupan beragama.
Oleh karena itu, komentar atau catatan kami tentang pertunjukan stand up comedy dari Pandji Pragiwaksono, sedikit banyaknya akan didasari oleh prinsip hidup yang coba kami terapkan, tentu dengan penuh kekurangan di sana-sini.
ISI
Mens Rea adalah judul pertunjukan stand up comedy Pandji Pragiwaksono. Dan Mens Rea merupakan pertunjukan kesepuluh yang telah dilakukan oleh bang Pandji selama kurang lebih 10 atau 15 tahun menjalani karir sebagai seorang komika.
Pertunjukan itu dilakukan di pertengahan tahun 2025 dengan konsep tour (berkeliling beberapa kota) dan puncaknya dilaksanakan di Jakarta. Penampilan bang Pandji di Jakarta ditonton secara langsung oleh kurang lebih 10.000 orang.
Walaupun Mens Rea dilaksanakan di pertengahan tahun 2025, tapi bang Pandji sudah aktif melakukan promosi dari mulai tahun 2024. Beliau sudah mulai rajin hadir di berbagai podcast. Kami pribadi mengikuti beberapa podcast yang dihadiri bang Pandji.
Dan sependek yang kami pahami, Mens Rea merupakan show stand up comedy yang akan penuh berbicara tentang politik di Indonesia. Kenapa kemudian Bang Pandji memilih judul Mens Rea, karena beliau ingin memberikan pesan bahwa beliau tidak ada niat jahat dalam membawakan materi politik, beliau hanya ingin menyampaikan "orasi politik" dengan bumbu komedi.
Dari apa yang kami lihat, yang beliau sampaikan itu memang benar terjadi. Pertunjukan Mens Rea bagi kami, ibarat sebuah kuliah umum ilmu politik yang disampaikan oleh seorang Dosen Humoris bernama Pandji Pragiwaksono. Sangat berbobot dan penuh teori ilmiah. Penyebutan orang atau aktor politik di dalam show tersebut dijadikan contoh atau elaborasi dari materi/teori yang disampaikan, entah itu untuk mempertajam argumentasi atau sekadar membumikan teori sehingga lebih mudah ditangkap oleh penonton. Tak ada kebohongan atau minimalnya hal-hal yang disampaikan itu adalah kutipan dari informasi yang telah tersebar secara luas di masyarakat.
Penegasan yang disampaikan oleh bang Pandji di awal pertunjukan dan telah banyak beliau jelaskan di beberapa podcast ketika akan melakukan pertunjukan itu, Mens Rea dirancang untuk memberikan kritik kepada masyarakat. Mencoba untuk "mencerdaskan" kehidupan politik masyarakat Indonesia.
Menurut keyakinan kami, Mens Rea dalam konteks kehidupan politik yang berlaku di Indonesia memang sebuah bentuk pendidikan politik yang mampu dikemas secara baik. Substansi teori tersampaikan tapi tidak dengan cara menggurui atau mendikte. Bahkan mampu dikemas dalam sebuah hiburan yang memiliki daya jual.
Tapi beberapa hal yang menjadi catatan kami, pertunjukan bang Pandji sebagaimana umumnya pertunjukan komika-komika lainnya, selalu terbumbui oleh bahasa-bahasa kasar/jorok. Wallahu'allam, sebenarnya ketika kata-kata kasar/jorok itu dihilangkan, materi dan kelucuan akan tetap hadir menemani. Sehingga kami tidak melihat urgensi hadirnya kata-kata kasar/jorok dalam sebuah materi stand up comedy.
Betul, bahwa kata-kata kasar/jorok yang disampaikan di atas panggung itu memang realita percakapan yang terjadi di mayoritas masyarakat kita. Bahkan kami pribadi dengan sangat sadar mengakui, masih sering menggunakan kata-kata kasar bahkan jorok ketika berkumpul dengan banyak teman. Tapi, ketika di keluarga, di rapat formal atau yang semisal dengan itu, kami selalu berusaha untuk tidak mengeluarkan kata-kata tersebut. Karena memang tidak pantas dan tidak layak. Semoga Allah mudahkan kami menghilangkan kebiasaan tersebut.
Begitu juga ketika sedang berbicara di depan umum dan jelas ada kamera yang sedang merekam, maka kami pikir hal itu juga kurang pantas untuk dilakukan. Kenapa? Karena hal itu akan terus ditonton oleh banyak orang dan akan memberikan pengaruh. Yang kami khawatirkan adalah normalisasi berkata kasar/jorok. Sehingga kemudian menganggap hal itu lumrah dan tidak berdosa.
Di beberapa materi lawakan yang bang Pandji bawakan masih ada beberapa hal yang menyinggung masalah agama, semisal persyaratan rajin sholat, rapatkan shaf dan rukyah. Apabila kita coba pahami secara utuh, kami sangat yakin, bang Pandji tidak sedang menghina syariat Islam.
Tapi hemat kami, komika-komika harus mulai menghindari materi yang mengandung syariat Islam. Karena memang syariat Islam bukan untuk bahan lelucon. Bang Pandji di show ini juga sudah sangat bisa membuktikan, bahwa mayoritas materinya tentang kehidupan berpolitik dan itu tetap bisa mengundang tawa penonton.
Maka cukupkan dengan materi di luar substansi agama, maka hal itu bagi kami akan sangat nyaman dan diterima seluruh kalangan. Atau sebagaimana materi rukyah, maka bang Pandji menitikberatkan pada perilaku orang yang menerapkan rukyah, bukan fokus pada substansi rukyah. Hal itu juga bisa menjadi cara untuk tidak bermain api dengan materi agama.
Selanjutnya, Mens Rea memang di setting untuk memberikan kritik terhadap masyarakat tapi argumen-argumen yang kemudian dihadirkan selalu bersinggungan dengan lembaga atau aktor politik di Indonesia. Hormat kami untuk bang Pandji karena mayoritasnya ketika beliau harus menyebutkan nama pejabat, beliau sebutkan dengan terlebih dahulu menggunakan kata "Bapak atau Pak", hal kecil tapi menunjukan rasa hormat dan sopan terhadap jabatan yang sedang atau pernah mereka emban. Hanya beberapa nama yang beliau sebutkan langsung, asumsi kami, karena mungkin secara umur, pejabat dimaksud memang "junior" bang Pandji secara umur.
Tapi harusnya, karena sekarang konteksnya mereka adalah pejabat negara, kita tentu berkewajiban menjaga marwah mereka sebagai simbol negara. Dan kritikan terhadap pemimpin secara terbuka, tentu sangat bertentangan dengan prinsip yang kami pegang. Dalam konteks demokrasi jelas itu sangat sejalan. Tapi, bagi kami, ada hal besar yang harus dipikirkan, yaitu keselamatan nyawa dan agama.
Ketika mayoritas orang terhasut dan tersulut emosinya, berbagai bentuk kekerasan tidak terelakan. Cukuplah fakta di banyak negara timur tengah menjadi pelajaran bagi kita betapa mahalnya nikmat keamanan. Belum lagi keselamatan agama, apa yang akan kita katakan di hadapan Rabbul Alamin ketika kita justru menjadi sebab nyawa orang melayang?
Bila memang harus melakukan kritikan, cukup kritik bentuk kebijakannya, sampaikan dengan nada sejuk menenangkan. Bila kita fokus kemudian mencaci pribadi, maka siapa orang yang sempurna terlepas dari kesalahan?
PENUTUP
Sebenarnya ada substansi materi tentang "one person, one vote" yang ingin kami berikan komentar, tapi rasa-rasanya itu perlu satu artikel khusus dan kami pun harus terlebih dahulu membaca rujukan teorinya sehingga lebih tajam argumen yang akan kami sampaikan.
Dan kini, seiring mulai banyaknya orang menonton show beliau, maka mulai banyak pihak yang mempermasalahkan beberapa isi materi dalam show tersebut. Well, kami pribadi berpendapat bahwa itu adalah konsekuensi logis ketika kita sudah berani menyampaikan sesuatu di depan umum. Karena sudah menjadi konsumsi publik maka apapun itu, baik dan buruknya, maka harus siap bertanggung jawab.
Selama itu ditempuh melalui jalur yang sah sesuai dengan hukum yang berlaku, maka jalani semua itu dengan baik. Tidak usah kemudian saling menyalahkan atau memberikan stigma kepada masing-masing pihak yang terlibat. Karena memang kita, pada akhirnya akan mempertanggungjawabkan seluruh apa yang telah kita lakukan, bila tidak di dunia sudah pasti di akhirat kita ditanya oleh yang Maha Kuasa.
Wallahu'allam.
Selesai ditulis pada hari Jumat, 20 Rajab 1447 H yang bertepatan dengan tanggal 9 Januari 2026 pukul 13.12 WIB
Komentar
Posting Komentar