Senin, 7 Syaban 1447 H / 26 Januari 2026
07.32 WIB
PROLOG 1
Hal itu dialami Dewi. Dalam perjalanan menuju kantornya di Jakarta Pusat, Jumat lalu, hujan deras mengguyur tanpa henti. Dari balik jendela bus, pandangannya kosong menatap air yang turun. Pikirannya melayang pada janji masa kecil yang hingga kini belum terwujud.
Puluhan tahun silam, saat masih tinggal di rumah neneknya di Jawa Tengah, Dewi kecil kerap duduk di depan jendela sambil memandangi hujan. Ia sering melihat ibu-ibu perajin gula kelapa berjalan beriringan membawa hasil olahan nira untuk dijual ke pengepul.
”Mereka bekerja sangat keras. Saat itu saya berjanji ingin menjadi orang kaya agar bisa menolong mereka,” katanya lirih. Janji itu belum terwujud hingga kini, dan hujan kerap membawanya kembali pada perasaan gagal, meski ia sadar itu bukan tanggung jawabnya.
(KOMPAS, 26/01/2026)
***
PROLOG 2
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hadits yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya Azza wa Jalla. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
"Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun dia tidak (jadi) melakukannya, Allâh tetap menuliskannya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya.
Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, maka Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak.
Barangsiapa berniat berbuat buruk namun dia tidak jadi melakukannya, maka Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allah menuliskannya sebagai satu kesalahan.” [HR. al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahiih mereka]
Ustaz Yazid, rahimahullah, menjelaskan makna dari berniat mengamalkan kebaikan, yaitu niat ini ditulis sebagai satu kebaikan sempurna, walaupun pelakunya tidak mengerjakannya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma dan lain-lain.
Dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , riwayat Muslim disebutkan (yang artinya):
"Jika hamba-Ku berniat ingin mengerjakan kebaikan, maka Aku menulis satu kebaikan baginya."
Zhahir hadits ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan tahadduts yaitu haditsunnafsi (niat) kuat yang disertai ambisi untuk beramal. Jadi, tidak hanya sekedar bisikan hati yang kemudian hilang tanpa semangat dan tekad untuk beramal.
https://almanhaj.or.id/12399-niat-untuk-berbuat-baik-mendapat-pahala-2.html
***
Jangan ragu untuk menghadirikan niat kebaikan dalam hati.
Ketika kita melihat banyak hal yang terjadi,
dan itu tak sesuai dengan prinsip yang kita yakini.
Maka sejenak kita menepi, hadirkan niat baik yang hakiki.
Menyusun rencana bila memang kita diberi amanah untuk memperbaiki.
Mari kita jadi "dewi"
Karena toh ini tak banyak mengambil energi.
Tak juga perlu menyita banyak waktu dan materi.
Hanya hadirkan niat untuk bisa membenahi
Bila nanti kita bisa berkontribusi.
Wallahu'allam.
Selesai ditulis pada hari Selasa, 8 Syaban 1447 H yang bertepatan dengan tanggal 27 Januari 2026.
Komentar
Posting Komentar