Senin, 14 Januari 2013

Iri bercita rasa positif


Pada hari Jumat, tanggal 11, bulan Januari, tahun 2013, pada khutbah Jumat hari itu, disampaikan beberapa wasiat, disampaikan sebuah pesan yang menurut saya sungguh sangat bermakna, sungguh sangat berguna bagi kehidupan Muslim pada khususnya dan Manusia lain pada umumnya dan bukankah setiap pesan agama itu akan selalu bermakna?  

Sidang Jumat pada hari itu bertemakan Tujuh Wasiat Rasulullah. Bahwasanya dalam hadits Qudsi dikemukakan tujuh sikap hidup yang hendaknya tercermin dalam perilaku seorang Muslim, baik sebagai individu ataupun sebagai anggota masyarakat. 
Ketujuh sikap itu adalah : 
1. Mencintai fakir miskin dan selalu mendekati mereka; 
2. selalu melihat kepada orang-orang yang ada di bawah, dan tidak selalu melihat yang ada di atas; 
3. menyambung kekeluargaan, sekalipun tidak menyukainya; 
4. tidak bertanya hal-hal yang tidak layak ditanyakan tentang seseorang; 
5. menyampaikan yang haq walaupun terasa pahit; 
6. tidak takut dimaki ataupun dimarahi dalam bertindak di jalan Allah;dan 
7. memperbanyak ucapan, “la haula wala quwata illa billah” 

Secara sekilas, tanpa perlu penjelasan panjang lebar mengenai tujuh wasiat Rasulullah tersebut maka kita pun sudah mampu untuk menangkap maksud serta arah dari tujuh pesan atau wasiat itu. Betapa kehidupan akan menjadi ideal apabila manusia mampu untuk setidaknya berusaha sepenuh hati menjalankan tujuh wasiat itu dan tentunya juga harus ditunjang dengan berbagai sikap baik lainnya. 

Akan tetapi bagi saya pribadi, saya mempunyai sedikit pemikiran berbeda, mempunyai sudut pandang lain berkenaan dengan wasiat yang kedua yaitu “selalu melihat kepada orang-orang yang ada di bawah, dan tidak selalu melihat yang ada di atas”. 
Wasiat kedua ini bertujuan agar kita sebagai manusia selalu berusaha untuk menjadi manusia yang selalu bisa untuk senantiasa bersyukur atas segala rizki serta rahmat yang diberikan oleh Allah Swt., Tuhan Yang Mahakuasa, wasiat itu juga mengajarkan kepada kita bahwa ketika kita selalu melihat ke atas, kita tak akan mampu untuk bersyukur, kita akan menjadi seseorang dengan sikap iri dan dengki dalam hati, kita akan susah melihat orang senang dan teramat senang ketika melihat orang lain susah. Dan itu jelas sangat tidak kita kehendaki, sifat itu hanya akan menimbulkan perpecahan dalam setiap struktur masyarakat dan saya jelas tidak menghendaki hal seperti itu. 

Tetapi yang kemudian akan coba saya sampaikan adalah bahwa terkadang kita harus juga mempunyai sifat iri dalam hati. 
Hah? Sikap iri? Kenapa? 
Bagi saya, menurut saya, sikap iri itu perlu untuk kita miliki dalam hal iri terhadap setiap perbuatan postif ataupun prestasi postif yang dilakuakan oleh orang lain. 
Rasa iri itu perlu ketika kemudian dengan rasa iri itu kita tidak menjadi orang yang dengki atau menjadi membenci orang yang sukses dari kita atau membuat kita merasa rendah diri dan mengutuk diri sendiri. 
Tidak bukan seperti itu, tapi justru dengan rasa iri itu, iri hati terhadap hal-hal yang postif, kita menjadi termotivasi untuk juga mampu berbuat seperti itu atau bahkan melebihi segala pencapaian positif itu, menumbuhkan semangat kompetisi dalam berbuat baik sehingga kita mampu untuk senantisa berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan. Tanpa adanya rasa iri dengan spirit positif maka kita hanya akan menjadi seseorang yang pasrah, dan merasa cukup dengan segala apa yang ada dan dimiliki oleh kita sekarang ini tanpa ada kemauan ataupunn keinginan untuk berubah, berbenah, dan berkembang menjadi lebih baik lagi, sehingga kita pun akan terhenti dan stagnan serta terus berada dalam zona lingkaran nyaman kehidupan kita. 
Bila seperti itu apakah hari-hari kita tidak justru akan membosankan? Bukankah hari ini harus lebih baik dari hari kemmarin? 

Jadi, apa yang coba saya sampaikan di sini adalah tidak selamanya kita harus memberikan respon yang negatif terhadap suatu kata atau istilah yang memang secara umum bermakna negatif. Pada prakteknya hidup itu sangat dinamis sehingga segala apapun yang negatif justru harus mampu untuk kita berikan respon yang positif sehingga bisa berdampak baik, produktif serta konstruktif bagi kehidupan kita di dunia ini. 
Mari kita pahamai substansi, bukan terjebak dalam istilah. 

PMA always! :)

11 komentar:

  1. bagus banget ya wasiat rasulullah

    BalasHapus
  2. khutbahnya sangat bagus sekali ya

    BalasHapus
  3. @borescope dan timbangan : betul pak, segala apa yang Rasulullah lakukan memang sangat pantas untuk kita contoh. :)

    BalasHapus
  4. bukankah iri itu konotasinya negatif, jadi sudah benar bahwa kita harus mengambil contoh pada yang di atas sebagai motivasi untuk mencapai kehidupan yang lebih baik...tapi kalau hal itu berdasarkan iri..rasanya janggal, karena sekali lagi..kata iri itu konotasinya negatif :)

    BalasHapus
  5. @BlogS of Hariyanto : betul pak, benar2 pendapat yang luar biasa hehe. saya hanya orang yang mencoba utk selalu hidup dinamis pak, dalam artian saya tidak ingin kita semua terjebak dalam sebuah istilah, saya hanya ingin kita benar2 dulu memahami substansi yang ada di dalamnya terlebih dahulu.

    BalasHapus
  6. SeKecil apapun sikap iri dalam hal untuk kebaikan tentu sangat di anjur kan dalam beragama ya..

    BalasHapus
  7. @cik awi dan Kids Party : terima kasih banyak ya! :)

    BalasHapus
  8. emang bener.. intinya.. jika kita berpegang teguh pada Al Quran dan Rosul.. (semoga) kita semua selamet.. gag cuma di teori, tapi yg terpenting aplikasinya.. :) makasii kang iia ;)

    perenungan buat saiia pribadi nii ;)

    BalasHapus