Kamis, 25 Mei 2017

Salafus sholeh dan Ru'yah.

KAMIS, 28 SYABAN 1438 H / 25 MEI 2017
13.45 WIB

"Semua bisa berubah sejalan dengan kejadian yang kita alami, entah musibah ataupun anugerah. Persepsi kita, cara pandang kita, opini kita, pengalaman kita, semuanya bisa berubah. Tapi, satu hal yang jangan berubah adalah : Aqidah kita, kepercayaan kita terhadap Allah, terhadap semua kekuasaan-Nya dan pilihan-Nya."

Alhamdulillah, dengan segala rahmat-Nya, Allah ta'ala izinkan saya untuk bisa terus mengembangkan diri. Dan salah bentuk pengembangan diri yang saat ini saya alami adalah saya bisa sampai pada pemahaman tentang bagaimana sebenarnya konsep seorang Muslim yang ideal. Demi Allah, saya masih perlu banyak belajar, baik dari tataran teori maupun implementasi. Adapun kalimat tersebut saya maksudkan hanya dalam konteks bahwa di tengah-tengah banyaknya pemahaman Islam di Indonesia saat ini, dengan berbagai macam pendekatan yang mereka gunakan. Saya bisa untuk memahami Islam dengan cara, yang insyaallah ta'ala, paling baik dan paling aman.

Kata kunci yang saya tekankan di sini adalah "main aman". Karena konsekuensi sebagai orang yang mengaku Islam adalah kita harus percaya adanya kehidupan setelah kematian. Lebih jauh lagi kita harus meyakini adanya Surga dan Neraka. Bahwa apapun yang telah kita lakukan di dunia ini akan kita pertanggungjawabkan di akhirat nanti dan kita pun akan mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan apa yang telah kita lakukan. Oleh karenanya, memahami agama dengan benar adalah harga mati karena itu akan menentukan akan dimana nantinya kita berada, apakah surga atau neraka. 

Maka cara yang paling mudah untuk bisa selamat dalam beragama adalah dengan mengikuti cara beragama orang-orang yang memang pasti akan masuk Surga. Nah, dalam Islam, Allah ta'ala menurunkan Al-Qur'an sebagai kitab bagi seluruh umat manusia tidak dengan begitu saja. Allah ta'ala menurunkan Al-Qur'an melalui, Nabi dan Rasul pilihan-Nya, yakni Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Sehingga beliau shallallahu alaihi wa sallam, sebagai orang pilihan Allah ta'ala, Nabi sekaligus Rasul-Nya, adalah orang yang paling paham dengan apa yang diinginkan Allah ta'ala
Maka setelah Muslim sepakat bahwa Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah Nabi dan Rasul-Nya, selanjutnya kita harus juga bersepakat bahwa beliau shallallahu alaihi wa sallam berbeda dengan manusia lain. Beliau shallallahu alaihi wa sallam tidak berbicara dan bersikap berdasarkan nafsu tapi semua ucapan dan tindakan beliau shallallahu alaihi wa sallam adalah wahyu dari Allah ta'ala serta beliau shallallahu alaihi wa sallam tidak meninggal kecuali dalam keadaan bahwa seluruh urusan beragama dalam Islam telah beliau shallallahu alaihi wa sallam ajarkan secara sempurna. Keyakinan selanjutnya dan ini keyakinan utama adalah beliau shallallahu alaihi wa sallam pasti masuk surga.

Jadi bila ingin selamat atau "main aman" dalam beragama maka kita hanya tinggal meng-copy paste cara beragama Rasul shallallahu alaihi wa sallam. Cara kita meng-copy paste pun menjadi lebih mudah karena Rasul shallallahu alaihi wa sallam tidak hidup sendiri dalam menyebarkan dan mengajarkan Islam, beliau shallallahu alaihi wa sallam dibantu dan dikelilingi oleh banyak sahabat. Bahkan banyak sahabat Rasul shallallahu alaihi wa sallam yang juga Allah ta'ala jamin untuk masuk surga. 
Secara logika pun, para sahabat adalah orang-orang yang hidup satu zaman dengan Rasul shallallahu alaihi wa sallam, jadi besar kemungkinan mereka sangat memahami dengan apa yang dimaksud oleh Allah ta'ala dalam setiap firman-Nya yang kemudian dijabarkan oleh hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, saya meyakini, dengan izin Allah ta'ala, bahwa Islam itu mudah. Cukup pahami Al-Qur'an dan Hadits sesuai dengan pemahaman sahabat, tabi'in (orang-orang yang hidup di zaman sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam), tabi'ut tabi'in (orang-orang yang hidup di zaman tabi'in) serta para ulama yang konsisten untuk berada pada pemikiran 3 (tiga) generasi terbaik tersebut. Apa yang mereka lakukan, kita lakukan dan apa yang mereka tinggalkan, kita pun meninggalkannya. Tentu tidak semua orang pada 3 (tiga) generasi tersebut kita ikuti, kita hanya mengikuti mereka yang sholeh. Maka cara beragama yang paling aman dan selamat menurut saya adalah beragama sesuai dengan pemahaman salafus sholeh. 
Kecuali pada perkara-perkara yang memang kontemporer, maka ruang diskusi ilmiah di kalangan para ulama sangat mungkin terjadi. Tapi untuk urusan yang telah ada sejak zaman Rasul shallallahu alaihi wa sallam maka rasa-rasanya, menurut saya yang awam, tak layak untuk kita kemudian ber-ijtihad suatu hukum/metode yang baru. Bila untuk sarana atau fasilitas dalam melakukan ibadahnya mungkin masih bisa berinovasi. 
Wallahu'alam.

***

As Sindi menjelaskan, “Nampak dari hadits ini bahwa urusan waktu puasa, lebaran dan idul adha, bukanlah urusan masing-masing individu, dan tidak boleh bersendiri dalam hal ini. Namun ini adalah urusan imam (pemerintah) dan al jama’ah. Oleh karena itu wajib bagi setiap orang untuk tunduk kepada imam dan al jama’ah dalam urusan ini. Dari hadits ini juga, jika seseorang melihat hilal namun imam menolak persaksiannya, maka hendaknya orang itu tidak menetapkan sesuatu bagi dirinya sendiri, melainkan ia hendaknya mengikuti al jama’ah” (Hasyiah As Sindi, 1/509).

Mengikuti Al Jama’ah dalam hal penentuan Ramadhan dan hari raya adalah mengikuti keputusan pemerintah muslim yang sah yang berkumpul bersama para ulamanya yang diputuskan melalui metode-metode yang sesuai dengan sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.


Melalui tulisan ini saya pun berlepas diri dan bertaubat atas tulisan-tulisan saya terdahulu dalam perihal agama yang dengan sangat jelas lebih mementingkan akal di atas dalil Qur'an dan Hadits sesuai pemahaman salafus sholeh. Tapi saya pun sengaja tidak menghapus tulisan-tulisan tersebut karena saya ingin menjadikan itu sebagai bukti nyata dari berubahnya pola pikir serta bagian dari pembelajaran.

Salah satu contoh nyatanya adalah dalam urusan penetapan awal Ramadhan, dan Syawal yang seringkali menjadi polemik diantara kaum Muslim yang ada di Indonesia. Dalam beberapa tulisan saya, saya memang pada waktu itu memilih untuk mengikuti metode hisab yang dikeluarkan oleh salah satu ormas yang ada di Indonesia. Tapi kini, insyaallah ta'ala, saya lebih meyakini keputusan yang nantinya dibuat oleh Pemerintah.

Agama Islam tidak mengajarkan untuk fanatik pada suatu kelompok. Tak ada fanatisme kelompok dan ekslusivitas dalam Islam. Islam itu agama dalil dan sangat ilmiah. Siapa yang memiliki hujjah yang lebih kuat, maka kita wajib mengikuti pendapatnya. Jadi, diskusi ilmiah dalam Islam sangat terbuka lebar. Maka dalam hal penetapan awal ramadhan dan syawal, dalil yang kini saya pahami, bahwa mentaati pemerintah harus diutamakan dari keputusan sebuah ormas. Setidak-tidaknya ada 2 (dua) argumen yang saya yakini yakni aqidah utama ahlus sunnah adalah harus taat pada pemerintah serta sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam menentukan awal ramadhan dan awal syawal adalah dengan metode ru'yah, bukan hisab.

Pertama perihal taat pada pemerintah.

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menaatiku maka dia telah taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka dia telah durhaka kepada Allah. Barangsiapa yang menaati amirku maka dia telah menaatiku. Dan barangsiapa yang mendurhakai amirku maka dia telah durhaka kepadaku.” (HR. Bukhari [7137] dalam Kitab al-Ahkam)

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma yang diriwayatkan oleh Ahmad dan at-Thabrani bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukankah kalian telah mengetahui bahwa barangsiapa yang menaatiku maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan termasuk dalam bentuk ketaatan kepada Allah ialah dengan menaatiku?” Maka para sahabat menjawab, “Benar, kami mempersaksikannya.” Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya termasuk bentuk ketaatan kepadaku adalah kalian taat kepada para penguasa kalian.” dalam lafal yang lain berbunyi, “para pemimpin kalian.” Kemudian al-Hafizh berkata, “Di dalam hadits ini terkandung kewajiban untuk taat kepada para penguasa -kaum muslimin- selama itu bukan perintah untuk bermaksiat sebagaimana sudah diterangkan di depan dalam awal-awal Kitab al-Fitan. Hikmah yang tersimpan dalam perintah untuk taat kepada mereka adalah untuk memelihara kesatuan kalimat (stabilitas masyarakat, pent) karena terjadinya perpecahan akan menimbulkan kerusakan -tatanan masyarakat-.” (Fath al-Bari [13/131] cet. Dar al-Hadits)

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan ada para pemimpin/penguasa setelahku yang mengikuti petunjuk bukan dengan petunjukku dan menjalankan sunnah namun bukan sunnahku. Dan akan ada di antara mereka orang-orang yang memiliki hati laksana hati syaitan yang bersemayam di dalam raga manusia.” Maka Hudzaifah pun bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kulakukan jika aku menjumpainya?” Beliau menjawab, “Kamu harus tetap mendengar dan taat kepada pemimpin itu, walaupun punggungmu harus dipukul dan hartamu diambil. Tetaplah mendengar dan taat.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Imarah)

Syaikhul Islam Abu Utsman as-Shabuni rahimahullah berkata, “As-habul hadits berpandangan untuk tetap mengikuti setiap pemimpin muslim dalam mendirikan sholat Jum’at, sholat dua hari raya, ataupun sholat-sholat yang lainnya. Entah dia adalah seorang pemimpin yang baik ataupun yang bejat. Mereka juga memandang kewajiban untuk berjihad melawan orang-orang kafir bersama pemimpin tersebut. Meskipun mereka itu zalim dan suka bermaksiat. Mereka juga memandang semestinya rakyat mendoakan perbaikan keadaan, taufik/hidayah, serta kebaikan untuk mereka (penguasa) dan mendoakan juga agar mereka bisa menyebarluaskan keadilan di tengah-tengah rakyat. Mereka juga memandang tidak bolehnya memberontak dengan pedang kepada mereka…” (‘Aqidah Salaf As-habul Hadits, hal. 100 tahqiq Abul Yamin al-Manshuri cet. Dar al-Minhaj berupa file pdf)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mensyari’atkan bagi umatnya kewajiban mengingkari kemungkaran yang dengan tindakan pengingkaran itu diharapkan tercapai suatu perkara ma’ruf/kebaikan yang dicintai oleh Allah dan rasul-Nya. Apabila suatu bentuk pengingkaran terhadap kemungkaran justru menimbulkan perkara yang lebih mungkar dan lebih dibenci oleh Allah dan rasul-Nya maka tidak boleh melakukan tindak pengingkaran terhadapnya, meskipun Allah dan rasul-Nya memang membencinya dan murka kepada pelakunya. Contohnya adalah mengingkari penguasa dan pemimpin dengan cara melakukan pemberontakan kepada mereka. Sesungguhnya hal itu merupakan sumber segala keburukan dan terjadinya fitnah hingga akhir masa. Barangsiapa yang memperhatikan musibah yang menimpa umat Islam berupa fitnah yang besar maupun yang kecil maka dia akan bisa melihat bahwasanya hal itu timbul akibat menyia-nyiakan prinsip ini dan karena ketidaksabaran dalam menghadapi kemungkaran sehingga orang pun nekat untuk menuntut dilenyapkannya hal itu, namun yang terjadi justru memunculkan musibah yang lebih besar daripada -kemungkaran- itu.” (I’lam al-Muwaqqi’in [3/4], dinukil dari ta’liq Syaikh Ruslan dalam kitab al-Amru bil Ma’ruf wa an-Nahyu ‘anil Munkar, hal. 25 berupa file pdf) 

Syubhat yang sering terdengar berkenaan dengan pemerintah adalah adanya beberapa orang yang "berteriak" bahwa yang harus ditaati itu adalah pemerintah yang menerapkan Al-Qur'an bukan pemerintah yang tidak menerapkan Al-Qur'an, maka jawaban untuk syubhat tersebut adalah dengan hadits yang diriwayatkan dari Suwaid bin Ghafalah rahimahullah, dia berkata, “Berkata kepadaku ‘Umar radhiallahu ‘anhu, ‘Wahai Abu Umayyah, aku tidak tahu apakah aku akan bertemu engkau lagi setelah tahun ini… Jika dijadikan amir (pemimpin) atas kalian seorang hamba dari Habasyah, terpotong hidungnya maka dengarlah dan taatlah! Jika dia memukulmu, sabarlah! Jika mengharamkan untukmu hakmu, sabarlah! Jika ingin sesuatu yang mengurangi agamamu, maka katakanlah aku mendengar dan taat pada darahku bukan pada agamaku, dan tetaplah kamu jangan memisahkan diri dari jamaah!” http://asysyariah.com/kewajiban-taat-kepada-pemerintah/

Pelajaran dalam hadits di atas menurut para ulama adalah Rasul shallallahu alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa kelak akan ada zaman ketika pemimpin ditunjuk maupun dipilih tidak berdasarkan cara yang sesuai syariat, karena makna "hamba dari Habasyah" adalah seorang budak hitam dan tidak mungkin seorang budak hitam menjadi pemimpin di zaman Rasul shallallahu alaihi wa sallam tapi kemudian Rasul shallallahu alaihi wa sallam menggunakan kalimat di atas untuk menunjukan bahwa sekalipun ada pemimpin yang terpilih tanpa mekanisme sesuai cara Islami maka kita selaku Muslim wajib tetap taat!

Lalu syubhat lainnya yang juga sering terdengar adalah perihal apakah negara Indonesia ini negara kafir atau negara Islam? 
Sesungguhnya kaum muslimin berbeda pendapat mengenai negara islam kapan menjadi negara kafir, menjadi lima pendapat :

Pertama : bahwa negeri islam tidak akan menjadi nergeri kafir secara mutlak, ini adalah pendapat ibnu hajar Al Haitami dan beliau menisbatkannya kepada Asy Syafi’iyyah. Kedua : Negeri islam menjadi negeri kafir dengan diperbuatnya dosa-dosa besar, ini adalah pendapat kaum khowarij dan mu’tazilah. Ketiga : negeri islam tidak berubah menjadi negeri kafir dengan sebatas dikuasai orang kafir, namun sampai syi’ar-syi’ar islam terputus sama sekali. Ini adalah pendapat Ad Dasuki Al maliki. Keempat : Negeri islam berubah menjadi negeri kafir dengan dikuasai oleh orang kafir secara sempurna. Ini adalah pendapat Abu hanifah. Kelima : Negeri islam berubah menjadi negeri kafir apabila dikuasai oleh orang-orang kafir dimana mereka menampakkan hukum-hukumnya, dan ini pendapat Abu Yusuf dan Muhammad bin Al hasan.

Pendapat terakhir ini yang rajih dan paling kuat, berdasarkan beberapa dalil diantaranya hadits ketika Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim pasukan, beliau bersabda :

“…dakwahilah mereka kepada islam, jika mereka menjawab maka terimalah mereka dan tahanlah dari mereka kemudian serulah agar hijrah ke negeri muhajirin…” (HR Muslim no 1731).

Disini Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutnya sebagai negeri muhajirin karena mereka yang menguasai negeri tersebut, maka negeri islam adalah yang dikuasai oleh kaum muslim dimana mereka mampu menampakkan syi’ar-syi’ar islam yang besar seperti melaksanakan sholat jum’at, ‘ied, puasa ramadhan, haji, dikumandangkannya adzan secara bebas dan lain-lain. Dan negeri kafir adalah sebaliknya.

Syaikhul islam ibnu Taimiyah memberikan batasan syari’at mengenai ini, beliau berkata, ”Suatu negeri disebut negeri kafir atau negeri iman atau negeri fasiq bukanlah sifat yang tetap namun ia bersifat relatif sesuai dengan keadaan penduduknya.”

Beliau juga berkata, ”Negeri itu berubah-ubah hukumnya sesuai dengan keadaan penduduknya, terkadang suatu negeri menjadi negeri kafir bila penduduknya kafir, kemudian menjadi negeri islam bila penduduknya masuk islam sebagaimana keadaan Makkah yang tadinya negeri kafir.”

Dalam hadits Anas ia berkata,” Adalah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyerang apabila tiba waktu adzan, bila terdengar suara adzan maka beliau menahan dan jika tidak beliau menyerang.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits ini adalah dalil yang tegas bahwa adanya sebagian hukum-hukum islam yang tampak, dapat dijadikan tanda sebagai negeri islam karena ia menunjukkan siapa yang menguasai negeri tersebut.

Bila ada yang berkata, ”lalu bagaimana di zaman sekarang ini di Amerika, dan negara-negara kuffar lainnya yang dikumandangkan padanya adzan, apakah menjadi negara islam?” jawabnya tentu tidak karena penduduk disana mayoritas orang-orang kafir dan merekalah yang menguasainya dan dikumandangkannya adzan disana tidak secara bebas tidak seperti di negeri-negeri islam.” https://salafiyunpad.wordpress.com/2010/07/01/negara-tidak-berhukum-dengan-hukum-islam-negara-kafir/

Kedua : penentuan awal ramadhan dan syawal dengan metode ru'yah.

Perlu diketahui bersama bahwasanya mengenal hilal adalah bukan dengan cara hisab. Namun yang lebih tepat dan sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengenal hilal adalah dengan ru’yah (yaitu melihat bulan langsung dengan mata telanjang). Karena Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi contoh dalam kita beragama telah bersabda,

”Sesungguhnya kami adalah umat ummiyah. Kami tidak mengenal kitabah (tulis-menulis)[5] dan tidak pula mengenal hisab[6]. Bulan itu seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 29) dan seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 30).”

Ibnu Hajar Asy Syafi’i rahimahullah menerangkan,

“Tidaklah mereka –yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengenal hisab kecuali hanya sedikit dan itu tidak teranggap. Karenanya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan hukum puasa dan ibadah lainnya dengan ru’yah untuk menghilangkan kesulitan dalam menggunakan ilmu astronomi pada orang-orang di masa itu. Seterusnya hukum puasa pun selalu dikaitkan dengan ru’yah walaupun orang-orang setelah generasi terbaik membuat hal baru (baca: bid’ah) dalam masalah ini. Jika kita melihat konteks yang dibicarakan dalam hadits, akan nampak jelas bahwa hukum sama sekali tidak dikaitkan dengan hisab. Bahkan hal ini semakin terang dengan penjelasan dalam hadits,

“Jika mendung (sehingga kalian tidak bisa melihat hilal), maka sempurnakanlah bilangan  bulan Sya’ban menjadi 30 hari.” Di sini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan, “Tanyakanlah pada ahli hisab”. Hikmah kenapa mesti menggenapkan 30 hari adalah supaya tidak ada peselisihihan di tengah-tengah mereka.

Sebagian kelompok memang ada yang sering merujuk pada ahli astronom dalam berpatokan pada ilmu hisab yaitu kaum Rofidhoh. Sebagian ahli fiqh pun ada yang satu pendapat dengan mereka. Namun Al Baaji mengatakan, “Cukup kesepakatan (ijma’) ulama salaf (yang berpedoman dengan ru’yah, bukan hisab, -pen) sebagai sanggahan untuk meruntuhkan pendapat mereka.” Ibnu Bazizah pun mengatakan, “Madzhab (yang berpegang pada hisab, pen) adalah madzhab batil. Sunguh syariat Islam telah melarang seseorang untuk terjun dalam ilmu nujum. Karena ilmu ini hanya sekedar perkiraan (dzon) dan bukanlah ilmu yang pasti (qoth’i) bahkan bukan sangkaan kuat. Seandainya suatu perkara dikaitkan dengan ilmu hisab, sungguh akan mempersempit karena tidak ada yang menguasai ilmu ini  kecuali sedikit”. Sumber : https://muslim.or.id/328-menentukan-awal-ramadhan-dengan-hilal-dan-hisab.html

***

Saya sangat menyadari, sekarang kita hidup di akhir zaman ketika kebenaran menjadi rebutan. Standar yang digunakan pun sangat beragam. Maka apa yang saya sampaikan di atas tentu akan menimbulkan banyak pertentangan. Ulama dengan ilmu sangat mumpuni pun banyak orang yang merendahkan, apalagi kata-kata yang keluar dari seorang Adima yang tak punya bekal apapun. Apalagi entah kenapa, berbicara masalah agama, semua orang mendadak menjadi cerdas tak terbatas. Maka seringnya tak mau menerima pendapat yang bertentangan dengannya.

Tulisan ini saya niatkan untuk berbagi kebaikan. Jadi semoga bermanfaat.
Wallahu'alam.





3 komentar:

  1. ***saya ingin menjadikan itu sebagai bukti nyata dari berubahnya pola pikir serta bagian dari pembelajaran.

    Masya allah..ademnya..

    Manusia berproses dan menjadi, keep istiqamah diks.

    BalasHapus
    Balasan
    1. insyaallah kak, terima kasih kakak..

      Hapus
    2. Assalaamu'alaikum warahmatullaah. Izin kang, 'Afwaan, sedikit mengoreksi tulisan "Wallahu'alam" yang akang tulis, penulisan yang benar adalah "Wallaahu a'lam" jika arti yang akang maksud adalah "Dan Allaah Maha Mengetahui". Oh iya kang, turut bersuka cita atas undangan walimatul 'ursy yang mungkin sudah mulai tersebar. Baarakallaahu fiikum, kang.

      Hapus