Selasa, 24 Mei 2016

Falsafah Hidup

MINGGU 15 MEI 2016
16.14 WIB

Falsafah berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (kbbi.we.id) mempunyai arti sebagai anggapan, gagasan, dan sikap batin yang paling dasar yang dimiliki oleh orang atau masyarakat/pandangan hidup. Beberapa orang menganggap sama antara falsafah dengan filsafat. Dan beberapa yang lainnya memisahkan kedua kata tersebut walaupun dengan perbedaan yang tak terlalu mencolok.

KBBI sendiri memberikan 4 (empat) pengertian filsafat yang satu diantaranya dapat diartikan sebagai falsafah. Oleh karena itu saya berpendapat bahwa pada intinya falsafah adalah filsafat.

Pengertian filsafat atau falsafah dari segi semantik berasal dari bahasa Yunani, philosophia (philos : cinta, sophia : pengetahuan/hikmah), yakni cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Tak heran apabila asal usul kata filsafat/falsafah berasal dari Yunani karena awal mula orang-orang mulai berfilsafat dimulai di Yunani, pada masa Thales. Setelah itu filsuf-filsuf terkenal pun bermunculan dari Yunani, seperti Socrates, Plato, Aristoteles, dan lainnya.

Apa sebenarnya yang dilakukan oleh seorang Filsuf? Bagaimana cara seseorang berfilsafat?

Semua orang bisa memberikan pemahamannya masing-masing terhadap 2 (dua) pertanyaan di atas, sepanjang masih dalam koridor pengertian awal filsafat. Bagi saya pribadi semua orang pada dasarnya pasti berfilsafat karena semua orang harus mempunyai falsafah hidup. Kita tidak mungkin hanya hidup sekedarnya atau setidak-tidaknya manusia dewasa dan normal di dunia pasti pernah bertanya, Saya ini siapa? Untuk apa saya hidup? Atau kita pasti pernah mempertanyakan kenapa kita melakukan hal ini dan hal itu. 

Saya yakin bahwa manusia dewasa dan normal pernah mempertanyakan tentang eksistensi dirinya, tentang apa yang dia lakukan, tentang kebenaran, dan segala macam yang telah, sedang, dan akan terjadi di dunia ini.

Apabila kita hanya sekedar hidup tanpa pernah berpikir dan bertanya berarti (maaf) anda mungkin gila atau belum dewasa atau bahkan seekor binatang. 

Karena bertanya adalah hasil dari berpikir dan berpikir adalah bukti nyata kerja sebuah akal. Jadi mereka yang tidak bertanya berarti mereka tidak pernah berpikir dan mereka yang tidak berpikir berarti mereka tidak mempunyai akal. 

Bagi mereka yang tidak memiliki akal atau tidak menggunakan akalnya adalah orang-orang gila, anak kecil atau binatang.

Itulah yang membuat manusia berbeda dengan makhluk lain yang ada di dunia. Manusia dengan akalnya bisa lebih mulia dari malaikat tapi bisa juga lebih hina dari binatang. Oleh karena itu manusia dengan akalnya harus mampu berfilsafat dan menemukan falsafah hidup sehingga mampu menjalin kehidupan sesuai dengan semestinya (fitrah).

Ketika manusia berfilsafat, menanyakan berbagai macam pertanyaan radikal tentang kehidupan, lantas dimana mereka akan dapatkan jawaban?

Banyak hal dan cara yang bisa dilakukan tapi tentu kita menginginkan jawaban yang mutlak benar untuk menghilangkan keraguan. Contohnya adalah sebuah ponsel, anggap atau bayangkan kita berada di sebuah masa ketika ponsel baru pertama kali dibuat dan dipasarkan. Ponsel tersebut jelas sebuah benda asing dan kita tidak tahu cara menggunakannya. 

Hal yang perlu kita lakukan adalah bertanya langsung kepada orang yang membuat ponsel tersebut atau membaca manual guide dari orang yang membuat ponsel itu.

Kita bisa saja mengabaikan buku panduan dan berusaha dengan usaha sendiri menemukan cara penggunaannya. Hal itu mungkin berhasil tapi akan membutuhkan waktu lama dan kemungkinan besar kita akan cepat untuk merusakannya. Tapi apabila kita baca dan pahami buku panduan maka kita akan cepat untuk mengetahui cara penggunaanya dan besar kemungkinan ponsel tersebut akan memberikan banyak manfaat karena kita menggunakannya sesuai dengan arahan dari sang penciptanya.

Perumpamaan di atas kita coba renungkan dan implementasikan pada diri kita sebagai manusia. Apakah kita (manusia) tercipta dengan begitu saja? Saya pikir tidak. Karena manusia terlalu sempurna apabila tercipta dengan sendirinya atau bahkan tercipta secara “kebetulan”. Tak ada “kebetulan” yang sesempurna manusia. Jadi Sang Pencipta jelas ada, Tuhan itu nyata.

Setelah kita yakini adanya Sang Pencipta, maka falsafah hidup dewasa ini banyak bertebaran di sana-sini dalam berbagai bentuk bernama agama. Tapi Alhamdulillah sampai detik ini, saya masih meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar di dunia ini. Maka sudah selayaknya Manusia menjadikan agama Islam sebagai falsafah dalam menjalani kehidupannya seperti yang telah tercantum di dalam “buku panduan”, Al-Qur’an dan Hadits Shahih Rasulullah Saw.

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(An-Nisa : 59)

“Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu : Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.”
(H.R. Ibnu Abdil Barr)

***

Walaupun telah begitu jelas Firman Allah dan sabda Nabi, akan tetapi masih banyak manusia yang memiliki dan mendasari falsafah hidupnya kepada selain Qur’an dan Hadits Shahih.

Saya pribadi adalah seorang manusia biasa dan tak pernah luput dari perkara dosa. Bahkan saya memiliki masa ketika berbuat dosa tak lagi menjadi beban dalam hati dan pikiran. Tapi saya pun tidak gila dan saya enggan untuk menjadi binatang sehingga saya terus berusaha membenahi diri dan memperbaiki segala yang masih salah.

Segala ketidaksempurnaan dan banyaknya dosa yang saya perbuat tak lantas membuat saya malu untuk mengatakan bahwa saya selalu berusaha mendasari hidup berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits Shahih.

Perkara masih banyaknya dosa yang saya lakukan itu bukan cerminan Al-Qur’an dan Hadits tapi murni cerminan bahwa saya belum sepenuhnya memahami dan mengamalkan isi dari Al-Qur’an dan Hadits.

Salah satu usaha saya untuk semakin memahami Al-Qur’an dan Hadits sebagai falsafah hidup adalah dengan memperbanyak membaca buku berkenaan dengan pembahasan isi dari Al-Qur’an dan Hadits. Contohnya adalah buku berjudul Falsafah Hidup karya Prof. Dr. Buya Hamka.

Buku yang mengupas tentang pedoman menjalani kehidupan dengan pendekatan filsafat berdasarkan pada kententuan dan isi yang ada di dalam Al-Qur’an dan Hadits. Buku tersebut adalah buku lama dan itu menjadi sebuah bukti ketika suatu tulisan mengupas permasalahan kehidupan berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits maka pembahasan yang termuat di dalamnya akan selalu relevan dengan perkembangan zaman. 

Hal itu menjadi bukti kuat bahwa Allah adalah Sang Pencipta dan Sang Pencipta mengetahui mana yang terbaik bagi ciptaan-Nya.

Buku setebal 428 halaman itu terdiri dari 1 Bab Pengantar, 9 bab isi dan 1 Bab Kesimpulan. Beberapa kalimat yang digunakan dalam buku Falsafah Hidup terkadang sulit untuk dimengerti karena struktur kalimat serta kata terkesan aneh untuk zaman dewasa ini. Tapi apabila anda telah membaca buku-buku Prof. Dr. Buya Hamka lainnya maka anda tak akan terkejut dengan hal tersebut karena sungguh walaupun agak aneh untuk dibaca tapi pada akhirnya anda pasti akan mampu memahami isi buku.

Bab Sederhana merupakan bab yang paling saya sukai. Di dalam bab Sederhana terdapat banyak hal yang sangat mengena dan menyindir kepribadian saya secara keseluruhan. Sederhana dalam bertutur kata adalah hal yang sepertinya masih belum bisa saya lakukan.

Jangan salah paham, saya tak lantas bermaksud untuk mengatakan bahwa saya telah menerapkan kesederhanaan dalam berbagai hal lainnya. Saya masih jauh dari kata “bisa”. Tapi sederhana dalam bertutur kata menjadi sebuah permasalahan kompleks, terlebih di zaman teknologi, ketika media sosial menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam keseharian manusia.

Karena kini “berbicara” tak lagi melulu tentang apa yang terucap langsung secara lisan tapi juga tertulis di berbagai macam media sosial. Ketidakmampuan untuk menahan diri dan bertindak sederhana dalam berucap menyebabkan terbukanya kran permasalahan dan perpecahan.

24 tahun terbiasa dengan karakter berbicara blak-blakan dalam balutan candaan memang terasa mengasyikan. Berbicara semaunya tanpa mau untuk terlebih dahulu memikirkan akibatnya. Betapa saya telah banyak mengeluarkan kalimat yang tak berguna.

Buku Falsafah Hidup Bab Sederhana kembali mengingatkan saya bhawa seharusnya kita berpikir dulu sebelum mengeluarkan sebuah pernyataan dan menjawab tak lebih dari apa yang ditanyakan. Hal itu bukan berarti kita menjadi seseorang yang pendiam dan memisahkan dari pergaulan. Akan tetapi mampu untuk mengetahui batasan. Itu-lah inti dari kesederhanaan. Tidak melebihi dari apa yang menjadi bagian dan kemampuan yang kita miliki.

Ya, bukan perkara mudah untuk bias mengimplementasikan sebuah kesederhanaan, tapi harapan dan perubahan itu selalu terbuka bagi kita yang selalu berusaha memperbaiki diri dan tentunya berpikir positif.

#PMA

0 komentar:

Posting Komentar