Sabtu, 29 Dzulqadah 1447 H // 16 Mei 2026
20.42 WIB
Bissmillah wa shallatu wa sallam ala rasulillah
Ini tentang sebuah karir.
di sebuah tempat yang disebut birokrasi.
Ketika yang tertulis tak mesti sesuai dengan apa yang terjadi.
Ketika fakta tak melulu sejalan dengan yang tertulis rapi.
Alkisah, tersebutlah seorang pegawai.
Bertahun-tahun berjibaku, tak dia dapat bagian dari jabatan.
tak juga dia dapat bagian dari harta.
Lalu kemudian dia memilih untuk menepi, mendekat pada keluarga.
Memilih tenang dengan hangatnya kebersamaan.
Waktu berganti, kehidupan ternyata memaksanya untuk bisa mengambil sesuatu yang lebih.
Hitungan matematika dunia mengusik hati, dengan kondisi yang kini dia hadapi.
Tapi nurani yang dia yakini, tak inginkan dia mengambil dengan jalan yang menyalahi.
Walaupun harus diakui, dia bukan malaikat yang senantiasa suci.
Masih banyak dosa yang dia lakukan setiap hari.
Dengan bertameng bahwa itu adalah sebuah sistem yang tak bisa dihindari.
Seolah-olah bisa selamat di hadapan Illahi Rabbi.
Maka mulai dia berpikir solusi.
Untuk sudahi saja mimpi tentang sebuah jabatan berdasar sistem merit.
Yang seharusnya sudah dikubur sejak dia memutuskan menepi.
Dan pun dia sudah harus mawas diri.
Dia tak punya "koneksi", tak juga hebat dalam kompetensi.
"Loyal" pun teramat jauh dari standar seorang pegawai birokrasi.
Dia coba cari tempat yang bisa berikan harta, tanpa harus "mengakali".
Beberapa opsi datang menghampiri.
Kemudian dia harus memilih.
Penuh dengan resiko tapi itu-lah yang harus dijalani.
Hingga sampai di satu pilihan, menyingkirkan beberapa yang lain.
Dan ternyata opsi yang terpilih tak seindah yang dia pikirkan.
Jalannya tak semulus yang dibayangkan.
Disaat yang sama, opsi yang lain tak mungkin lagi dilaksanakan.
karena sudah tegas dia tentukan, mengambil yang satu dan yang lainnya dia tinggalkan.
Ya, ini-lah indahnya kehidupan.
Maka kini dia harus terus berjalan.
Mencoba tegar walau hatinya gemetar.
Tak mengapa tak dia dapati keduanya.
atau bahkan satu diantaranya.
Sepanjang kita hidup dan mensyukuri, maka itu-lah yang terbaik.
Kini dia tampil bermodal suara.
Mencoba memberi petuah kepada sesama.
Memotivasi orang untuk semangat meniti karirnya.
Dan di saat yang sama, dia sebenarnya sedang menguatkan jiwanya.
Ironi memang, kita yang mengajar adalah seorang yang biasa.
Tapi berucap hal-hal besar nan luar biasa.
Berkata-kata banyak hal, yang mungkin mayoritasnya belum tentu juga dia kerjakan.
Tapi, yang dia tau sekarang, dia coba pastikan yang dia lakukan, tak ada aturan yang dia langgar.
Ya, memang tak bisa semuanya, tapi minimalnya tak dia tinggalkan seluruhnya.
Wallahu'allam.
Selesai ditulis pada hari Sabtu tanggal 29 Dzulqadah 1447 H yang bertepatan dengan tanggal 16 Mei 2026 pada pukul 21.05 WIB.

Komentar
Posting Komentar