Kamis, 31 Oktober 2013

Where are you, motivation?

KAMIS, 31-10-2013
14.01 WIB
 
Lama tak bersua, lama tak lagi menari di atas keyboard laptop tua ini. Bila boleh saya kembali ke belakang, mengingat lagi apa yang telah terlalui untuk menjadikannya sebuah pembelajaran, maka hal ini, sedikit banyak, persis sama pernah saya alami ( baca : bukan Galau ).
 
Mungkin dengan sebab yang sedikit berbeda tapi akibat yang dihasilkannya sungguh sama.
 
Saya kembali mengulang fase kehilangan sentuhan ajaib untuk mampu terus berpikir kritis dan menumpahkannya secara sistematis dalam tulisan.
 
Ini seharusnya menjadi sebuah hobi bagi saya dan sepantasnya sebuah hobi, maka saya harus mengerjakannya untuk mengalahkan segala jenuh yang menimpa.
 
Tapi lagi dan lagi, realita berselingkuh dari teori, atau teori yang tidak mampu menerima utuh realita, atau justru realita yang tidak mau menampung teori?
 
Yang jelas, menulis itu tak lagi memberikan gairah karena tak lagi mampu menghilangkan kejenuhan dan tak bisa untuk dilakukan dengan secara sukarela, atau dengan reflek secara tiba-tiba.
 
Seketika saja, pikiran saya tak lagi kritis, saya menerima saja apa yang sedang, telah, dan akan terjadi di sekeliling saya. Saya tak peduli dan sedang tak mau peduli.
 
Membaca yang sedianya menjadi bahan untuk kemudian memperkaya tulisan yang akan saya buat, menjadi sebuah aktifitas yang tak mampu untuk terselesaikan dengan benar.
 
Secara mendadak, banyak kegiatan serta aktifitas yang sebenarnya tak penting, cenderung konsumtif bahkan destruktif, terasa bahkan menyeruak menjadi sebuah kegiatan wajib nan penting yang tidak bisa untuk ditinggalkan.
 
Kenapa? entah ada apa.
 
Ini mungkin terdengar merekayasa atau mendramatisir perasaan dan fakta yang ada, tapi ini cara saya mendeskripsikan kemalasan, serta kemandekan yang sedang saya jalani.
 
Ketika yang lain terus berlari maju ke depan, berubah terus berbenah menjadi pribadi yang lebih positif dan konstruktif untuk sesama. Menjadi manusia yang berguna. Saya justru harus tertegun, dan terlelap dalam situasi stagnan tak berkembang.
 
Liat-liat "adik-adik" saya para pemain Timnas Sepakbola U-19! Liat rekan-rekan saya para Praja IPDN Kampus Cilandak! Dan liat semua saudara eks-Kampus Kalimantan Barat yang terus konsisten dengan kebaikan!
Dan saya ada dimana?
 
Ini baru sekedar contoh dan perbandingan dalam lingkup yang sangat kecil, bila terus diperbandingkan dengan semua prestasi-prestasi yang ada dalam waktu yang sangat bersamaan, maka semakin kecil posisi saya, semakin terlihat tak berguna diri ini.
 
Bukankah saya meyakini bahwa masa depan itu akan sangat dipengaruhi dengan apa yang saya lakukan hari ini? bukankah karakter itu akan dibentuk dengan apa yang menjadi kebiasaan kita hari ini? bukankah kebiasaan itu ditentukan dengan segala sikap dan tingkah laku kita pada hari ini? bukankah, bukankah, dan bukankah ??
 
Ini memang perubahan. Tapi kita tidak bisa mentoleransi perubahan yang menyebabkan kemorosotan. Kita memang jangan malu untuk menjilat ludah sendiri, tapi ini ludah kotor!
 
Saya pun tidak ingin menyalahkan keadaan dan lingkungan beserta semua orang yang ada di dalamnya, itu hanya perangsang. Toh, pada akhirnya diri kita yang memilih.
 
Ikan saja tidak menjadi asin ketika hidup sehari-hari di lautan, jadi murni karena kedangkalan prinsip hidup yang saya miliki.
 
Saya percaya, seperti apa yang diajarkan seorang Guru SMA dulu, bahwa manusia itu mempunyai potensi baik dan buruk yang sama besarnya. Akhirnya terseraah pada manusia itu untuk lebih mengedepankan potensi yang mana.
 
Kita sendiri yang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita pilih, bukan dia, bukan mereka, bukan juga lingkungan!
 
Hanya kita, ya kita sendiri!
 
Saya menjadi mengerti bahwa saya ternyata sejauh ini tidak terlalu kuat. Menjadi baik ketika memang situasi dan lingkungan mendukung dan condong pada kebaikan.
 
Tapi ketika disodorkan pada tempat yang abu-abu, bahkan cenderung mengajak pada keburukan, maka saya mengikutinya.
 
Masih terbawa arus, masih tak sekuat ucapan-ucapan bijak para filsuf.
 
masihkah bisa untuk,... always #PMA??

5 komentar:

  1. apa ada masalah dengan tempat/lingkungan akang sekarang? tidak kah ada motivasi disana? rasanya beberbeda ketika masih di kalbar.

    BalasHapus
  2. hati-hati sobat terjebak dalam rutinitas "baru" yang dibentuk oleh fikiran sendiri atau lingkungan, sejatinya kemampuan kita akan semakin terasah dan teruji ketika mampu konsisten untuk berkarya dimanapun dan kapanpun juga (sulit memang). semoga kita semua senantiasa dirahmati Tuhan YME utk konsisten dalam kebaikan. amin

    BNEB!

    BalasHapus
  3. @lili fauziah : tidak ada masalah dgn tempatnya neng, cma masalah itu ada di akang. ternyata akang gak cukup kuat dlm menahan godaan.

    @catatan pamong : amin, amin. terima kasih banyak atas dukungannya :)

    BalasHapus
  4. Diks, ayo coba tumblr. Mungkin bisa jdi lahan lain, sebut pendamping blog. Sya sendiri pake tumblr untuk remeh temeh, sekedar t4 menyelamatkan kewarasan. Klo suntuk tingkat dewa ato isengnya kumat, tumblr bisa jd solusi yg baik. Postingan2nya lebih ringkas.

    Sori, out of topic.

    BalasHapus
  5. Siap laksanakan kak, saya sudah melaksanakan saran dan nasihat kakak. :)

    BalasHapus