Rabu, 07 Maret 2012

Phantom Goal







Giuseppe Meazza, Sabtu, 25-02-2012
Ac Milan Vs. Juventus : 1-1 ( Nocerino, 15; Matri, 83 )

“Jika memang ada yang mengusulkan ( bukti rekaman video ), silahkan saja. Tapi, tidak untuk sepak bola Italia. Menggunakan rekaman video menurut saya, akan membunuh esensi sepak bola itu sendiri. Wasit tetaplah menjadi penentu putusan di lapangan.”
Marcello Nicchi ( Presiden Asosiasi Wasit Italia (AIA) )

“Sepakbola bersifat manusiawi. Karenanya wajar ada kesalahan maupun kontroversi. Bukankah hal itu justru yang membuat sepakbola menarik?”
Tabloid Soccer, Sabtu 3 Maret 2012

Saya tidak harus lagi melakukan introduksi bahwa saya ini adalah seorang milanisti. ( baca : Who Is Noorz ? ) Jadi tulisan ini, yang berisi analisis saya terhadap hasil serta jalannya pertandingan antara Ac Milan Vs. Juventus pada tanggal 25, bulan Februari, tahun 2012 yang lalu tentu akan lebih condong atau pro-Milan dengan berbagai alasan yang bersifat subjektif akan tetapi secara keseluruhan saya akan tetap mencoba professional dan tetap mengedepankan penilaian secara objektif sesuai dengan kenyataan yang ada.

Pekan ke-26 Serie-A Liga Italia, yang dihelat pada minggu yang lalu, menghadirkan satu pertandingan Big Match, yaitu antara Ac Milan melawan Juventus, sebenarnya pada pekan yang sama di minggu yang lalu, terdapat pertandingan lain yang juga pantas untuk disebut sebagai suatu pertandingan Big Match yaitu antara Inter melawan Napoli. Akan tetapi pertandingan Milan dan Juve lebih banyak diperbincangkan banyak orang dan lebih banyak mendapatkkan perhatian, karena sampai dengan pekan ke-26 ini, duo tersebut-lah yang masih saling kejar-mengejar seru memperebutkan tahta capolista ( peringkat pertama ) untuk nantinya mendapatkan Scudetto ( Juara Liga Italia ) di akhir musim dan selisih poin antar keduanya hanya dibedakan oleh satu poin, itu pun dengan Milan yang mempunyai satu pertandingan lebih banyak daripada Juve. Sehingga laga antara keduanya pada minggu yang lalu memang benar-benar dianggap sebagai laga penentu Scudetto dan benar-benar menghadirkan tensi yang tinggi serta panas antara kedua belah pihak. Belum lagi apabila kita membahas sejarah yang ada di belakang kedua tim tersebut dan rivalitas antara kedua fans fanatiknya, maka semakin lengkap-lah apabila pertandingan tersebut mendapat label Grande Partita atau laga Big Match.

Tensi sebelum pertandingan semakin bertambah liar tak terkendali disulut oleh pernyataan dari masing-masing aktor kedua belah pihak, dan yang paling nyaring terdengar dan merusak kerja telinga kanan serta kiri para pecinta bola adalah pernyataan dari pelatih Juve yaitu Antonio Conte, yang menyebutkan bahwa Juve sering kali dirugikan oleh berbagai keputusan wasit di lapangan. Hal itu sebenarnya merupakan komentar “biasa” dari seorang pelatih, tapi menjadi tidak “ biasa” karena waktu di saat dia mengeluarkan pernyataan itu adalah di saat laga besar akan dihelat, sehingga jelas pernyataan itu bisa menjadi beban tersendiri bagi wasit yang nantinya akan bertugas “mengamankan” jalannya pertandingan. Dan untuk beberapa pemain pun tanpa harus mereka berkomentar, laga Milan melawan Juve sudah pasti akan menjadi laga yang emosional bagi mereka, yaitu bagi Andrea Pirlo ( eks Milan ), Antonio Nocerino ( eks Juve ), Alessandro Matri ( eks Milan ), dan Marco Borriello ( eks Milan ), jelas sesuatu hal yang tidak mudah dan tidak juga begitu sulit untuk mereka bermain secara professional melawan bekas klubnya. Juve sendiri datang dengan dua misi, yaitu merebut kembali tahta capolista dari tangan Milan sekaligus mempertahankan rekor belum pernah terkalahkan dalam kompetisi sepakbola tahun ini, sebuah catatan impresif ditunjang dengan catatan jumlah kebobolan yang paling kecil dalam pentas kompetisi Serie-A dan bagi Milan misi mereka hanya satu yaitu bermain menang untuk mempertahankan posisi capolista dan semaikn dekat untuk mempertahankan gelar Scudetto-nya.

Dan saat kick-off dimulai, peluit ditiup panjang oleh sang pengadil pertandingan, Paolo Tagliavento, maka pertandiingan antara Milan Vs. Juventus pun resmi untuk dimulai dan seperti yang telah kita ketahui bersama hasil dari pertandingan tersebut adalah berakhir dengan seri ( draw ) 1-1, sehingga kedua belah tim berhak mendapatkan poin satu dan hal itu tidak merubah banyak posisi mereka di klasemen sementara Serie-A. Tapi apa yang menjadi perbincangan hangat dan bahkan menjadi kontroversi sampai dengan saat ini, dan mungkin sampai nanti kompetisi berakhir adalah dianulirnya gol Milan dari Sulley Ali Muntari setelah secara jelas bola tersebut melewati hampir 51 cm garis gawang yang dikawal oleh Buffon.

Hal tersebut menjadi sesuatu hal yang sangat kontroversi karena terlihat sangat jelas bahkan tanpa harus menggunakan rekaman video yang ditayangkan dalam slow motion, bahwa bola tersebut telah melewati garis gawang! Sehingga menjadi sesuatu hal yang terlampau aneh kenapa wasit sekelas internasional sampai tidak mengesahkan gol tersebut.
Pada pertandingan itu sendiri kedua tim bermain dengan sangat baik dan melakukan banyak jual-beli serangan walaupun di babak pertama Milan memang lebih mendominasi pertandingan dan melakukan pressure ketat terhadap pemain Juve sehingga hal itu memaksa pemain Juve untuk bermain bertahan dan banyak pemain Juve yang justru melakukan kesalahan-kesalahan mendasar. Puncaknya adalah ketika Barzagli salah melakukan umpan sehingga mampu untuk dikonversi menjadi gol oleh Nocerino dan gol itu membuat Milan unggul dan semakin di atas angin. Dan Milan bisa saja benar-benar mengakhiri pertandingan lebih cepat seandainya kontroversi itu tidak terjadi, seandainya gol Sulley Ali Muntari itu tidak dianulir, karena dengan keunggulan dua gol jelas segala sesuatunya akan berjalan sangat berbeda dibandingkan dengan hanya unggul satu gol. Dan karena peristiwa kontroversi itu, Milan pun kehilangan memomentum pada babak kedua dan mungkin juga diakibatkan oleh lelahnya beberapa pemain, karena stock pemain Milan memang benar-benar terbatas setelah 14 pemain utamanya harus dilanda cedera secara bersamaan sehingga rotasi tidak bisa berjalan dengan baik dan pemain yang ada benar-benar dimaksimalkan penuh oleh Allegri, dieksploitasi habis, apalagi dengan fakta bahwa Milan masih bertahan dalam tiga kompetisi, sehingga wajar apabila kemudian para pemain Milan tidak bisa untuk tampil impresif dengan tempo tinggi selama 90 menit penuh, ada beberapa waktu di mana para pemain Milan itu akan menurunkan temponya dan sesaat kehilangan momentum. Tapi ketika kemudian kehilangan memomentum itu juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, yang dalam hal ini adalah dianulirnya gol Sulley Ali Muntari, maka hal itu sungguh tidak sehat dan berakibat buruk bagi pemain Milan, terlebih dalam pertandingan besar melawan klub sekelas Juve. Maka di babak kedua, Juve benar-benar memanfaatkan situasi yang ada dengan baik dan mengambil alih kendali pertandingan, bahkan Milan sepertinya sudah puas dengan hasil yang ada dan cenderung untuk mengamankan hasil 1-0 tersebut, dan akhirnya petaka itu pun datang setelah pada menit ke-83, eks striker Milan, Matri mampu untuk menjebol gawang Milan dan memaksa Milan untuk puas dengan hasil seri, 1-1.

Bola panas pun bergulir cepat setelah berakhirnya pertandingan itu, tensi panas itu terlihat nyata ada, berbagai komentar tajam silih datang berganti, tentu yang menjadi tema utamanya adalah “phantom goal” yang dilakukan oleh Sulley Ali Muntari. Wasit yang memang sedari dulu selalu menjadi pesakitan apabila sebuah tim merasa dirugikan, maka dalam kasus ini pun setali tiga uang. Paolo Tagliavento, sang pengadil pada pertandingan tersebut menjadi target utama kritikan dan cacian, tidak sedikitpun kritikan dan cacian itu memperhatikan unsur-unsur kemanusiaan, apalagi ungkapan bahwa “wasit juga manusia”. Berbagai masukan dan solusi pun coba didengungkan oleh berbagai pihak untuk menanggulangi atau setidak-tidaknya mengurangi kontroversi yang diciptakan oleh korps baju hitam itu ( walaupun kini baju wasit mulai beragam dan variatif dan tidak lagi monoton berwarna hitam, dan kadang saya pikir wasit itu adalah bagian dari pemain, seperti halnya satu pemain voli yang memakai baju beda dalam setiap pertandingannya. Hehehe… ) Isu penggunaan teknologi dalam sepakbola pun kembali hangat untuk diperbincangkan, banyak orang yang berkata bahwa tidak ada satu pun dewasa ini yang bisa mengelak dari kemajuan teknologi, begitu juga olahraga dan sepakbola. Sepakbola dinilai terlalu skeptis dalam menilai kemajuan teknologi dan terlalu bepikiran tradisional dan menutup mata dari setiap teknologi yang ada. Tapi satu hal yang dikedepankan oleh setiap orang yang mempunyai kebijakan dalam menentukan aturan dalam sepakbola dunia bahwa mereka menekankan satu hal yang tidak boleh dirubah dalam sepakbola bahwa sepakbola itu adalah suatu olahraga yang berjalan secara natural dan alamiah, mereka khawatir dengan terlalu banyaknya campur tangan teknologi justru akan menghilangkan kekhasan sepakbola itu sendiri, apabila terlalu banyak menggunakan teknologi maka sepakbola ditakutkan justru akan menjadi membosankan.

Saya pribadi setuju bahwa sepakbola itu harus tetap dibiarkan alami dan berjalan secara natural oleh setiap aktor yang ada di lapangan, apa yang terjadi di lapangan biarkan-lah terjadi “semanusia” mungkin tapi saya pun setuju bahwa sepakbola juga jangan mentup mata dengan segala kemajuan teknologi yang ada. Dan saya pikir, sejauh ini, sepak bola sama sekali tidak skeptis dengan teknologi, sepakbola dewasa ini juga banyak menggunakan teknologi tapi tetap berpegang teguh dengan prinsip “manusianya”, jadi tidak ada aturan yang menyesuaikan dengan teknologi tapi teknologi itu harus menyesuaikan dengan aturan sepakbola itu sendiri. Saya tidak bisa membayangkan bagiamana sangat membosankannya apabila dalam menentukan sebuah gol, atau keputusan lainnya wasit dan setiap pemain dan semua perangkat sepakbola yang ada di lapangan harus terlebih dahulu “meluangkan” waktunya untuk melihat tayangan ulang. Emosi dan enegi itu akan sesaat menghilang dan apabila telah menghilang, siapa yang bisa menjamin mereka akan datang lagi? Bila hal itu benar diterapkan maka kemungkinan besar pertandingan sepakbola akan banyak terhenti dan itu sungguh sangat mengganggu esensi serta semangat bertanding dari setiap pemainnya dan jelas kenyamanan penonton dalam menyaksikan pertandingan itu. Tapi apabila kemajuan teknologi itu dipakai untuk membantu dan menyempurnakan aturan dalam sepakbola tapi dengan tidak merubah esensi/hakikat utama dari sepakbola maka hal itu sudah sepakbola lakukan, salah satu yang “besar” adalah penggunaan alat komunikasi bagi setiap wasit dalam setiap pertandingan. Alat komunikasi yang jelas sangat membantu wasit dalam berkomunikasi dengan para asisiten wasit di pinggir lapangan. Dan kaitannya untuk mengeliminasi kesalahan wasit dalam menentukan bahwa sebuah bola itu telah melewati garis gawang atau belum, maka “teknologi” yang paling masuk akal dan paling bisa untuk digunakan adalah dengan menggunakan wasit tambahan yang berada di belakang gawang, seperti yang kini telah diterapkan (diujicobakan) oleh UEFA. Saya pikir itu merupakan teknologi yang lebih mampu untuk mendukung “kemanusiaan” dari sepak bola itu sendiri atau bahkan yang paling “radikal” adalah dengan menanamkan chip pada bola, yang akan memberikan tanda khusus kepada wsit apabila bola itu telah melewati garis gawang.

Tapi hal kemudian yang ingin saya kritisi disini adalah berkaitan dengan bukti rekaman atau teknologi kamera dalam sebentuk bukti rekaman, yang dapat diputar secara slow motion, sehingga detail setiap kejadian mampu untuk tergambar dengan jelas. Hal tersebut merupakan suatu kemajuan teknologi, dan hal tersebut jelas tidak disetujui oleh berbagai pihak untuk diterapkan dalam sepakbola, denga alasan yang telah saya kemukakan diatas, dan saya pun setuju tapi kemudian saya menilai seuatu hal menjadi agak rancu. Karena apabila berkaitan dengan gol maka bukti rekaman tidak bisa digunakan, tapi apabila berkaitan dengan hal lainnya, bukti rekaman justru bisa untuk digunakan, kasus nyatanya adalah hukuman tiga pertandingan bagi Phillipe Mexes, bek Milan, yang dalam bukti rekaman pertandingan terlihat menyiku Marco Borriello, padahal di atas lapangan dalam berjalannya pertandingan, hal itu tidak mendapatkan teguran apapun dari sang pengadil. Maka dengan premis awal bahwa segala sesuatu yang terjadi di lapangan hasil dari keputusan wasit tidak bisa diganggu gugat, kenapa suatu pelanggaran bisa dijatuhkan?? Apa bedanya dengan gol? Bukankah, gol Sulley Ali Muntari pun tidak mampu untuk terlihat oleh wasiit, sehingga wasit tidak bisa mengesahkan gol tersebut, dan walaupun bukti rekaman video ada secara nyata menunjukan bahwa bola itu telah melewati garis gawang, tidak mampu untuk merubah hasil pertandingan. Lalu kenapa pelanggaran Mexes yang dalam pertandingan pun tidak mampu utnuk terlihat oleh wasit sehingga Mexes bisa terbebas dari hukuman tapi dengan bukti rekaman video, akhirnya Mexes bisa dijatuhi hukuman? Saya hanya mempertanyakan kenapa satu prinsip tidak digunakan dalam hal lain padahal esensi nya jelas sama, pengaruhnya jelas sama besar. Karena kita tidak pernah tau segala sesuatu itu sampai hal itu terjadi, dan hal yang terjadi itu merupakan hasil dari serangkaian proses sehingga kita tidak bisa dengan sombongnya melupakan satu elemn kecil pun dalam suatu proses, karena hasil yang ada tidak bisa kita jamin sama apabila satu elemen kecil itu berubah atau tidak ada.
Tanya kenapa ?

2 komentar:

  1. kontroversi gol milan.
    Pertanyaan pertama yang muncul adalah what the hell reff? Hakim garis yang bernama Roberto Romagnoli berdiri di posisi yang sangat tepat dan seharusnya melihat bola melewati garis dan memang seharusnya gol untuk Milan. Sebagian pengamat kemudian melihat dari sisi lain, yaitu apakah posisi Muntari saat menerima bola tersebut sudah off-side atau on-side. Memang dalam tayangan ulang terlihat jelas bahwa Muntari berdiri di depan Barzagli saat Mexes menanduk bola, yang dipermasalahkan adalah posisi Vidal. Jika Vidal yang saat itu berdiri diluar lapangan dianggap sebagai pemain aktif maka Muntari jelas on-side, namun jika Vidal dianggap non-aktif maka Muntari dalam posisi off-side.
    Merujuk pada peraturan FIFA halaman 100 paragraf kedua :
    “If a defending player steps behind his own goal line in order to place an opponent in an offside position, the referee must allow play to continue and caution the defender for deliberately leaving the field of play without the referee’s permission when the ball is next out of play.”
    “Jika seorang pemain bertahan DENGAN SENGAJA melangkah keluar dari lapangan dengan tujuan menempatkan pemain lawan dalam posisi off side, wasit harus melanjutkan pertandingan dan mengingatkan pemain tersebut karena telah meninggalkan lapangan tanpa ijin dari wasit saat pertandingan sedang berlangsung.”
    Masalahnya adalah Vidal meninggalkan lapangan secara TIDAK DISENGAJA setelah berduel dengan Pato. Dan sayangnya di dalam peraturan FIFA tersebut tidak disebutkan langkah yang harus diambil jika pemain tidak sengaja keluar dari lapangan. Hal ini mengundang perdebatan karena sebagian menganggap Vidal keluar tanpa ijin wasit karena itu Muntari on-side. Mungkin harus ada penjelasan lebih detail yang perlu ditambahkan dalam peraturan FIFA tersebutnamun kami sendiri lebih suka melihat / mengakui bahwa goal Muntari di menit 28′ ini sah.

    kontroversi gol juventus.
    Terlihat jelas posisi Matri On Side!
    Kita lanjutkan dengan insiden serupa, yaitu goal Matri pada menit ke 78′ yang juga dianulir oleh hakim garis yang sama. Matri berhasil lolos dari jebakan offside yang disusun oleh barisan pertahanan Milan sebelum menerima umpan dari Vucinic, dengan sedikit kontrol Matri kemudian menaklukkan Abbiati. Namun lagi-lagi hakim garis yang sama menganggap Matri dalam posisi offside, padahal dalam tayangan ulang terlihat jelas posisi Matri tidak off side. Hal ini tidak terbantahkan.

    sumber http://signora1897.com/2012/02/kontroversi-dibalik-milan-1-1-juventus/
    (lengkap dgn gambar)

    BalasHapus