Minggu, 29 Juli 2012

Manusia Sejuta Perkara

Saya harus katakan dengan penuh kebesaran hati bahwa tahun ini, 2012, bukan merupakan tahun yang indah bagi kehidupan pribadi yang telah dan sedang saya lalui, setidaknya hingga detik ini, hingga tulisan ini saya posting di dunia maya. 

Jangan terlalu anda artikan luas “kehidupan pribadi” yang saya tuliskan di atas, cukup asosiasikan kalimat “kehidupan pribadi” itu dengan makna “cinta”. Jadi mari kita coba ulangi sekali lagi : “Saya harus katakan dengan penuh kebesaran hati bahwa tahun ini, 2012, bukan merupakan tahun yang indah bagi cinta yang telah dan sedang saya lalui, .. “
How bout that? 
Sounds better and familiar to u?  
Mmm..tapi saya pikir kalimat itu masih terkesan rancu, jadi mari saya tambah satu kata lagi dan mari kita ulangi lagi untuk yang terakhir kali : “saya harus katakan dengan penuh kebesaran hati bahwa tahun ini, 2012, bukan merupakan tahun yang indah bagi kisah cinta yang telah dan sedang saya lalui, ..” 
Yes!! I get it!! 

Jadi mari saya beri anda gambaran situasinya, yang juga akan menjadi sebuah jawaban juga alasan kenapa saya meng-klaim tahun 2012 sebagai tahun yang tak indah bagi kisah cinta yang saya telah dan sedang saya lalui. 

Let’s begin this freakin shit… 

Awal tahun, saya dengan penuh keegoisan seperti biasanya seorang saya, dengan sangat tidak mempunyai hati harus lagi dan lagi memutuskan sebuah ikatan cinta dan kembali mengkhianati berjuta janji.
Tapi untuk sekian kalinya, saya benar-benar harus mengambil keputusan seperti itu karena menurut pemikiran saya, itu adalah jalan yang paling baik, karena ada beberapa di dalam dirinya yang tidak sesuai dengan apa yang telah saya konsepkan dalam otak. 
Karena sebuah hubungan itu, bagi saya, harus mampu untuk memberikan kenyamanan dan kebahagian, tidak untuk satu orang tapi kedua belah pihak harus sama-sama mampu untuk merasakannya dan bila dari kedua hal itu, kenyamanan dan kebahagaian, ada satu hal yang tidak mampu untuk saya dapatkan ( kenyamanan ) maka pantas kah saya mempertahankan hubungan itu? 

Waktu terus barlalu dan akhirnya saya pun dihinggapi lagi oleh rasa cinta baru dan sungguh sangat berbeda dengan kisah yang lalu. 
Kenapa begitu? 
Karena cinta ini untuk dia yang berbeda, berbeda dalam segala hal, bertentangan dengan tradisi yang ada dan juga agama. Ya, dua hal yang menjadi tembok penghalang cinta ini, agama dan tradisi. Entah mana yang lebih besar penghalangnya, tapi yang jelas seharusnya saya mampu untuk memahami keadaan itu sedari awal dan tidak terlalu berakting menjadi pahlawan yang juga kesiangan, bertindak seperti mampu untuk menerobos tembok penghalang yang jelas besar dan mungkin juga terbuat dari baja. 
Tapi, ya itu-lah saya, akhirnya saya nekat juga nyatakan cinta dan dia pun dengan sangat bijak menolak dengan agama dia ungkapkan sebagai alasan utama, bukan karena tradisi yang ada. Saya percaya dan terus menaruh harap juga asa. Tapi hei, saya seperti orang gila jadinya, menunggu-nunggu untuk suatu hal yang telah sangat jelas tak bisa untuk bersama, menunggu dia yang secara nyata tak bisa untuk mengambil resiko dalam bercinta, bahkan waktu lama berjalan saya sepertinya merasa bahwa sebenarnya bukan agama yang jadi masalah, tapi tradisi-lah yang membuat dia resah. Dia masih sangat terikat, tapi tak ingin lemah terlihat. 
Bukan kah perbuatan berbicara lebih keras daripada sebongkah kata? 
Tapi sudah-lah, apa bedanya? 
Karena agama ataupun tradisi, dia tetap tak mau untuk bersama dan tetap kokoh untuk menolak cinta yang saya tawarkan. Dan saya pun akhirnya mampu untuk menyadarkan hati untuk tidak lagi menaruh harap, asa juga angan padanya. 
Yeah, I’ve got to move on!! 

Di saat-saat seperti itu, tanpa disangka tanpa ada aba-aba, datang-lah seorang wanita yang tak saya kenal akrab tapi cukup saya ketahui dengan sangat singkat. Kami berkomunikasi sangat sering, seakan telah saling mengenal, tidak asing. Kami pun bertemu dengan banyak kesamaan, hingga akhirnya dia menawarkan cinta untuk membentuk sebuah hubungan. 
Saya kaget, sungguh tak saya lihat hal itu bisa datang. Dia sungguh berani untuk mengambil resiko, dia sungguh percaya pada cintanya, dengan sangat cepat saya pun berpikir tepat untuk menentukan sikap. Dan ya, saya terima tawaran itu, saya anggap itu sebuah tantangan dan saya melihat dari sudut pandang yang sangat lain bahwa sangat jarang wanita yang mau mengambil resiko seperti itu dan biasanya wanita seperti itu sungguh sangat tulus dan besar rasanya. 
Tapi tak butuh berapa lama, jiwa saya berontak, saya berubah 180 derajat menjadi takut, saya tak bisa, sungguh tak bisa. Dan akhirnya harus putus jua-lah hubungan singkat itu. 
Perkenalan singkat dan cinta yang sangat singkat. 

Dan ini-lah yang terbaru, sungguh membuat saya tertekan, pedih juga perih! 
Beranikan diri saya dekati dia walau saya telah tau sahabat saya pun menyukainya. Sedari awal, semenjak dia datang ke sini, bergabung dalam kehidupan di sini, saya telah menaruh hati padanya, sebelum akhirnya saya memutuskan untuk mendekatinya saya terlebih dahulu mendengar kabar yang berkata bahwa ternyata teman saya pun menaruh rasa padanya, di lain sisi, dia juga merupakan sahabat dekat dari wanita yang telah saya tinggalkan pada awal tahun. Jadi cukup-lah du alasan itu membuat saya mundur secara teratur. 
Tapi rasa itu tak bisa lama untuk saya atur hingga akhirnya menyeruak keluar ingin untuk terlampiaskan dan sebagai manusia yang lemah saya turuti saja rasa itu, toh itu bukan rasa negatif yang mampu untuk menghadirkan keburukan bagi saya. Dan juga seperti apa yang dikatakan pujangga ternama, juga seorang idola bagi saya, Kahlil Gibran, "dan aku lebih menyukai penyiksaan, penghinaan dan kematian daripada mengingkari panggilan suci" dan bagi saya salah satu panggilan suci adalah cinta. 
Tanpa ada drama, saya ungkapkan saja bahwa saya suka dia dan dia pun dengan mencoba berdiplomatis berkata bahwa juga memilki rasa tapi belum siap apabila harus bersama menjadi sepasang kekasih. 
Ya ya ya, saya pun belajar dari pengalaman yang telah lalu, tak ingin saya banyak mendengar alasan ini-itu, saya hanya membutuhkan jawaban jelas dan pasti, mau atau tidak. Oleh karena itu, saya pun mencoba cepat untuk berlalu, sesaat setelah dia memberikan jawaban pasti yaitu “tidak”, saya tidak ingin memaksa dengan terus menaruh harap padanya. 
Dia katakan belum siap, maka apa yang bisa saya perbuat? 

Bagaimana kawan? Tidak begitu tragis kan? 
Tapi cukup-lah untuk membuat hati ini pedih! 

Saya mungkin gila menuliskan ini semua dan menaruhnya di dunia maya. Saya tidak ingin publikasi atau mencari sensasi, atau bahkan untuk mendapatkan simpati. Saya hanya ingin sekedar berbagi, bercerita meringankan beban di hati, toh ini pun bukan hal yang benar-benar privasi, masih merupakan hal yang wajar untuk saya bagi. Bukan juga aib yang harus saya rapat tutupi. 

Bila anda membaca tulisan saya yang telah lalu, PROSES dan REALISTIS, maka anda mungkin akan mengerti bahwa saya ini merupakan orang yang selalu berusaha untuk hidup se-simple mungkin dan se-realistis mungkin. Prinsip itu berlaku untuk segala segi kehidupan, begitu halnya dengan kehidupan cinta walaupun ada beberapa pengecualian. Karena urusan rasa sungguh sangat tidak bisa untuk saya tebak juga sangka. 

Saya bertemu wanita, jatuh cinta, saya dekati, kemudian kenali hingga akhirnya saya ungkapkan segala rasa yang ada di hati, bila dia mau menerima maka semua tinggal kami lalui dengan komitmen sebagai dasar hubungan serta kebahagian dan kenyaman sebagai dua hal yang harus mampu kami dapati, bila terus mampu bertahan dan menemukan keyakinan bahwa kami ini cocok dan telah sehati, komitmen mampu untuk kami jaga dengan baik maka pernikahan-lah tujuan akhir yang harus kami lalui. 
Tapi apabila, dia menolak tak mau untuk menerima, maka pada saat itu pula saya harus berlari menjauh darinya, melanjutkan hidup dan mencari lagi cinta yang lainnya, tidak memaksanya, tidak juga terus menaruh asa. 
Simple 'kan? 

Lalu bila anda ada yang menertawakan saya dan mengatakan bahwa saya ini terlalu berlebihan dalam menanggapi urusan ini maka akan saya katakan alasannya pada anda : "Sepertinya saya mulai tau dan sadar penyebab utama hilangnya motivasi dalam diri selain dari kebosanan dalam melakukan rutinitas yang sama, stagnan dan monoton setiap hari. Hal itu, hal yang membuat saya lemah merupakan masalah laten juga klasik yaitu cinta, tentang mencintai dan dicintai seorang wanita. Saya tidak berbicara tentang sebuah hubungan atau biasa kita sebut dengan pacaran, itu hanya kemasan, tapi yang saya butuhkan adalah hakikat dari itu semua, bagaimana saya sangat membutuhkan diperhatikan dan memperhatikan seorang wanita, bisa setiap hari membagi kisah juga kasih, saling melempar tawa dan godaan terkadang gombal, saling mengingatkan, sering untuk menasihati juga belajar memahami.
Seorang wanita yang selalu bisa kita percaya untuk berbagi setiap rasa, seorang wanita yang selalu tak lelah berbagi canda, menyemangati dengan sejuta cinta dan kasih sayang, mengerti akan segala sifat buruk yang ada dan dengan sangat sabarnya penuh kelembutan dibalut rasa sayang mencoba membenahi segala apa yang harus diperbaiki."

Memang masih ada waktu bagi saya untuk membenahi ini semua dan merubah tahun 2012 menjadi tahun yang justru indah bagi kehidupan kisah cinta dalam hidup saya, tapi buth lebih dari keajaiban untuk dapat mendapatkan itu semua. 
Yeah, just don't give up hope, noorz!

2 komentar:

  1. tahun 2012 belum habis kawan...tetap semangat...keep happy blogging :)

    BalasHapus
  2. terima kasih pak! kata-kata sederhana, tapi merupakan semangat bagi saya. :)

    BalasHapus